sinopsis personal taste episode 2

Hehe he aku mulai suka dengan Personal Taste..sepertinya foto2 promos i untuk Personal Taste yang menunjukkan kedinamisan dan keakraban hubungan kedua main casts, Lee Min Ho dan Sohn Ye Jin. Busana Sohn Ye Jin sudah cukup pas, karena karakternya sbg Park Kae In adalah seorang gadis yang tidak terlalu mementingkan penampilan, walaupun ia bukannya tidak menarik. PersonalTaste 1 Syukuran Personal Taste Personal Taste Novel 3. Posted by tirza at 2:00 AM. Labels: Lee Min Ho, Personal Taste, Personal Taste Novel. Sinopsis Jumong episode 58; Hero episode 5; The Woman Who Still Wants To Marry episode 16 - Final; The Woman Who Still Wants To Marry episode 15; DramaKorea Suspicious Partner episode 2 tayang sore ini, Selasa (14/07/2020) pukul 16.30 WIB di Net TV. Halaman all Sinopsis Personal Taste, Drakor yang Dibintangi Lee Min Ho dan Son Ye Jin; Artikel ini merupakan bagian dari Parapuan. Parapuan adalah ruang aktualisasi diri perempuan untuk mencapai mimpinya. SinopsisPersonal Taste Episode 2. Posted in 3:28:00 PM Kae In masuk ke dalam gedung resepsi perkawinan dan kaget begitu melihat sahabatnya sendiri akan menikah dengan Chang Ryul yang baru memutuskan hubungannya kemarin. In Hee meminta maaf ke Kae In tapi mukanya tetep ga merasa bersalah. VideoDrama Korea Personal Taste Episode 1-16 Title: Personal Taste ( 개인의 취향) Also Known As: Personal Preference Broadcast Network: MBC Broadcast Period: March 31, 2010 Episodes Jang Geun Suk Site De Rencontre Par Affinité Religieuse. Episode 16 Part 2Episode 16 Today's Weather Report part 2 Kae in pergi mencari Jin Ho dan mengetuk kaca mobilnya, Jin ho sshi.. Jin ho bangun, apa kau bisa jalan? Kae in membawa Jin Ho masuk ke dalam villa dan merawat Jin Ho. Jin Ho masih jual mahal dan berkata tidak perlu mencemaskanku dan pergi saja. Jin Ho memunggungi Kae in, pergilah! Ayahmu akan cemas, jadi pergilah.. Kae in berkata berbaliklah, aku akan pergi setelah mengganti kain kompresmu. Pergilah, kata Jin Ho bertentangan dengan hatinya. Kae in berkata aku mengerti, demam-mu sudah hilang sekarang dan Kae in akan beranjak, Jin Ho langsung menahan tangannya, "Jangan pergi." Kae in "Lepaskan aku." Jin Ho menarik dan memeluk Kae in. Kae in berkata ia ingin mempercayai Jin Ho, meskipun kau hanya ingin memanfaatkanku dan meskipun aku akan terluka lagi, aku akan mempercayaimu. Kemudian perlahan mereka berciuman. Jin Ho dan Kae in berhadapan, Jin Ho ingin membuka baju Kae in hanya ia ragu, Jin ho menurunkan tangannya dan Kae in perlahan menggenggam tangan Jin ho dan meletakkan-nya di dadanya, bisa diartikan Kae in mempercayai Jin Ho , mereka berciuman lagi dan .. Ok, they did it sigh...don't try this at anywhere if u still single ok..maksud gua kalo blom nikah gitu loh. Paginya, Jin Ho bangun dan tersenyum melihat Kae in, Kae in membuka setengah matanya dan ia sembunyi di bawah selimut, Jin ho tertawa dan masuk lagi ke selimut LOL Jin Ho dan Kae in duduk menghadap jendela, Jin Ho berkata ia punya harapan, sebelum meninggal kelak, ia ingin menciptakan mesin waktu. Kae in heran mau apa dengan mesin waktu? Jin ho berkata agar bisa melihat ibu Kae in lagi, Jin ho juga berkata ia ingin muncul di depan Kae in saat Kae in usia 5 th, dan memeluknya. Kae in terdiam dan Jin Ho berkata jangan merasa bersalah lagi, itu bukan salahmu. Kae in tersenyum, tidak perlu, Jin Ho tidak perlu menciptakan mesin waktu, sekarang ada kau, aku sudah bertemu dirimu. Jadi tidak perlu mesin waktu lagi. Jin ho dan Kae in berpelukan. Jin Ho mengantar Kae in pulang. Kae in minta Jin Ho bertemu ayahnya tapi Jin Ho belum siap, justru Prof Park jalan mendekati mereka. Jin Ho dan Kae in berhadapan dengan Prof Park. Prof Park tanya apa kau mencuri designku? Jin Ho tidak menjawabnya. Kae in berkata itu semua Sang Jun yang melakukan tanpa sepengetahuan-mu kan. Jin Ho berkata benar, ia yang mencurinya. Kae in dan ayahnya kaget. Jin Ho berkata perbuatan rekan atau stafku, karena aku adalah direkturnya, sama saja aku yang melakukannya. Tapi karena Kae in, semuanya berubah. Prof Park tanya, jadi itu sebabnya kau membuat design yang baru, untuk menghapus kesalah pahaman pada putriku? Jin Ho membenarkan. Prof Park juga tahu rencana Jin Ho di setujui komite, Kae in kaget kau lolos? mengapa tidak mengatakannya padaku? Jin ho ingin mengatakannya nanti. Kae in sebal dan Jin Ho minta maaf dan mereka cekcok di depan Ayah Kae in Prof Park tanya apa yang disukai Jin Ho dari Kae in ? Jin ho diam, Prof Park tanya lagi apa susah menjawabnya ? Bukan, kata Jin Ho hanya saja aku susah menemukan hal-hal baik dari Kae in, tapi bagaimana kalau anda memberikan ijin agar aku bisa terus berkencan dengan putri anda? Nanti akan aku cari apa saja yang kusukai darinya. Ayah Kae in diam saja dan tanya seberapa kuat Jin Ho minum? Kae in kaget dan berkata Jin ho masih sakit sejak kemarin LOL sakit apa? Tapi Jin Ho berkata ia akan pergi dan beli minuman. Kae in membawakan makanan ringan untuk Sang Jun dan Tae Hoon. Kae in berkata ia sengaja menyiapkan ini. Jin Ho tertawa, sejak kapan Park Kae in menyiapkan snack? Sang jun dan Tae Hoon senang dan mereka semua akan makan ketika..Ibu Jin Ho masuk ke kantor mereka. Sang Jun yang pertama kali melihat dan langsung berdiri, semua juga akhirnya berdiri memberi salam. Jin Ho, "Chang Mi.." aku masih aneh aja, kok manggil mamanya dg namanya sih ..haha kalo mamaku pasti udah Apa?! Kae in dan Ibu Jin Ho bicara dari hati ke hati. Ibu Jin Ho masih sulit menerima Kae in biarpun menurutku alasan-nya tdk masuk akal, hanya krn Kae in pernah pacaran ama Chang Ryul, anak musuhnya.. Kae in mengerti, Ibu Jin Ho berkata, Jin ho itu seorang yang tidak pernah berkata sakit meskipun kenyataan-nya sebaliknya. Kae In menjawab, hubungan Jin Ho dan ibu sungguh membuatku iri, saat di Sang Go Jae dan tidak sengaja mendengar percakapan telp kalian, itu membuatku iri. Hubungan anak laki dan ibu yang sedemikian dalam, aku sangat menginginkannya, mungkin jika ibuku masih hidup, aku juga bisa seperti itu dengannya. Kae in berkata ia ingin dekat dengan ibu Jin Ho. Hati Ibu Jin Ho melunak dan ia berkata, "Kapan-kapan, datanglah ke rumah kami." ibu Jin Ho merestui mereka. Tiba waktunya presentasi final. Dua perusahaan yang masuk final, Mirae dan M. Mirae Corp, diwakili Han Chang Ryul mendapat giliran presentasi lebih dulu. Chang Ryul mengenalkan konsep "The Sound of the Sky" dimana semua bangunan saling terhubung tapi juga bisa berdiri sendiri, sehingga tidak menyatu di satu tempat saja, berupa village kecil2. M Corp, diwakili Jeon Jin Ho mempresentasikan ide "Apple Town" konsep museum yang lebih terbuka, bagaikan Apple town yang tumbuh ke atas, dengan konsep jendela seperti museum Louvre yang membiarkan sinar matahari masuk, seperti konsep apel yang jatuh ke tanah, sehingga sinar matahari bisa masuk lewat tingkap2 jendela. Hmm aku bisa membayangkannya, seperti apel emas yang jatuh dari atas ckckc..keren.. Prof Park diminta memberikan penilaiannya. Menurut Prof Park, konsep Mirae corp adalah konsep dengan nilai tertinggi. Presiden Han dan Chang ryul terlihat senang. Karena, menurut Prof Park, konsep Mirae menggabungkan unsur modern dan tradisional. Konsep M corp, apple town juga mendapat nilai tertinggi, biarpun konsep museum terbuka masih termasuk baru tapi sangat menarik. Jadi kesimpulannya, nilainya sama. Nah lo. MC minta Direktur Choi memberikan keputusan akhirnya. Do Bin "Design yang terpilih adalah Apple Town dari perusahaan arsitekur M!" Sang Jun langsung melompat berdiri dan semua memberi tepukan selamat pada Jin Ho. Presiden Han langsung pergi. Do Bin tersenyum senang. Kae in gelisah menunggu hasilnya di luar. Chang Ryul keluar duluan dan ia berkata ia bertekad untuk menang pertempuran dengan terbuka dan adil. Dan ia juga siap untuk kalah. Kae in diam saja. Chang Ryul mengulurkan tangannya, ayo salami aku, ini ucapan selamat. Kae in ragu2 tapi ia menyalami Chang ryul juga, dan Chang ryul tersenyum, aku sudah banyak melakukan kejahatan, itulah sebabnya aku kalah dari Jin Ho. Kae in kaget dan tersenyum senang. Chang Ryul mengucapkan selamat dan berkata ia menyesal kehilangan Kae in dan Chang Ryul mengucapkan perpisahan. Chang Ryul pergi. Kae in memandanginya. Jin Ho ada di belakang Kae in. Kae in menoleh dan ia langsung tersenyum lebar, "Selamat." kata Kae in. Jin Ho tersenyum, terima kasih, apa kau tahu, konsep museum Dahm itu aku dapat dengan tangisan permintaan maafku? Kae in tersenyum, "Aku dengan senang menerima permintaan maafmu." Di kantor M, semua bergembira dan mereka merayakan kesuksesan hari itu. Ada Jin ho, SangJun, Kae in, Young sun, Tae Hoon, Hye Mi ? Sang Jun gembira dan berkata sebelum Jin Ho bicara kita minta....Kae in menyanyi! semua bersorak. Kae in menolaknya, ia tidak bisa menyanyi, Sang Jun menghukumnya dengan memintanya minum soju. Kae in berkata oh tidak masalah..aku kuat minum, dan ia langsung mengambil gelasnya. Tapi Jin Ho tiba2 melarang Kae in, jangan! Kae in bingung, mengapa? aku kuat minum kok, ia akan minum tapi Jin Ho berusaha keras melarangnya, Sang Jun mendorong Kae in minum dan kae in meminumnya sampai habis. Jin Ho hanya bisa mendesah, hyung! dia tidak bisa minum..! Ternyata menurutku, Jin Ho berpikir ada kemungkinan Kae in hamil dan ia takut jika Kae in minum akan berbahaya bagi janin-nya, dan Kae in tidak pernah berpikir sampai ke situ hahaha... Prof Park menunggu Kae in. Jin Ho menggendong Kae in pulang ke SGJ. Kae in mabuk berat. Jin Ho minta maaf, karena terlambat. Prof Park berkata, serahkan dia padaku, Jin ho langsung menolaknya tidak, LOL. Prof Park berkeras, serahkan dia padaku. Akhirnya Jin Ho mengalah dan memberikan Kae in pada ayahnya tapi seperti kuduga ..papanya Kae in ngga kuat! dan Kae in hampir jatuh..untung Jin Ho cepat mengangkatnya lagi dan berkata ia akan membawanya ke dalam. Sedang Prof Park membungkuk memegang punggungnya..ingat encok Oom...!! Jin Ho menyelimuti Kae in dan ayah Kae in minta Jin Ho keluar untuk bicara. Prof Park berkata, terima kasih, 30 tahun lalu saat ia bertanggung jawab untuk Museum Dahm, ia membangun Sang Go Jae, tapi Jin Ho benar, konsepnya gagal. Ia hanya ingin istrinya bisa melihat anaknya sambil bekerja. Tapi semuanya hancur dan ia tidak menyangka anaknya akan menderita. Jin Ho berkata, Penderitaan yang dialami Kae in ...sama dengan penderitaan Anda. Kalian berdua sama2 terluka. Jin Ho menambahkan, maafkan saya. Prof Park menghela nafas dan berkata, putriku, jagalah dia. Jin ho mengiyakan. Prof Park berkata, aku masih ada urusan dan harus terbang ke Inggris, jadi kuminta jagalah Kae in baik2. Jin ho mengiyakan. Tapi, kata Prof Park, jika kau menyakiti Kae in lagi, aku sendiri akan menguburmu di sini wow..creepy daddy..!! Jin ho tersenyum, baik. Kemudian Jin Ho dan Kae in bersenang-senang dengan membeli baju pasangan dan potret2 ..ini pasti pesanan sponsor... Jin ho dan Kae in main ke taman, bersepeda, Kae in duduk di bangku dan tiba2 anak2 mendekatinya dan memberinya balon, tidak hanya satu, tapi hampir setiap anak di taman itu memberinya balon kayanya aku pernah lihat deh, tapi itu pilot pesawat yang ngasih mawar buat pacarnya, kemudian Jin Ho datang dengan balon ungu dan berkata, "Kae in, ini lamaranku.." Kae in kaget sekali dan melepaskan semua balonnya sehingga tersangkut ke pohon. Jin ho panik..oh tidak..apa yang kau lakukan? Kae in bingung..aku..habisnya kau..haha..aku tahu, pasti cincin! benar saja, Jin ho minta Kae in naik ke pundaknya dan mereka berusaha mengambil balon ungunya, karena di tali balon itu ada cincin! Kae in mengeluh mengapa Jin ho melamar dengan cara seperti ini, tidak langsung diberikan saja. Jin ho beralasan, ia ingin melamar dengan cara lebih kreatif ngga kaya di BBF, on your knees...and present the ring Bwa... Do Bin mengamati lukisan di galerinya sore2. Jin Ho mendatanginya. Do bin mengucapkan selamat atas rencana pernikahan Jin Ho. Jin Ho mengucapkan terima kasih atas segalanya. Do bin mendesah, ah hanya saja..sekarang aku kesepian sekali, tidak ada yang bisa kuajak ngobrol. Jin ho tersenyum, Direktur, telp kami kapanpun Anda ingin bicara. Do Bin berkata sejak bertemu Jeon Jin Ho dan Park Kae in, ia merasa lebih punya keberanian menghadapi dunia yang tidak adil ini. Keduanya tersenyum dan Jin Ho pergi. Do Bin menahan perasaannya . Jin Ho menemui Chang Ryul, Chang Ryul berkata ia akan ke China LOL..wamil, Jin ho menghela nafas, ayahmu, selalu ingin menguasai Mirae Corp. Chang ryul membenarkan, Jin ho apa kau ingat, dulu ketika kita remaja..kita suka camping bersama. Jin Ho membenarkan, iya..kita, ayah kita, keluarga kita..dan aku bahkan saat itu ingin menjadi entimologis /ahli serangga. Chang Ryul ketawa, iya..kita mencari serangga bersama, aku bahkan masih menyimpan serangga yang kita tangkap waktu itu di kamarku. Chang ryul berkata jika bukan karena kepentingan ayah kita, kita seharusnya bersahabat. Jin ho membalas, setelah pulang dari China telp aku. Mau apa? tanya Chang Ryul, apa kau mau mengajakku ke rumahmu? Itu sedikit sulit jawab Jin ho, soalnya calon istriku punya kesulitan dalam memasak. Chang Ryul tertawa, Jeon Jin ho..selamat atas pernikahanmu. Jin Ho, "Terima kasih." Sang Jun dan Young Sun mengagumi hasil foto USG, wow..lihat ini pasti bayi yang cantik...Keduanya bergandengan tangan dan duduk di sofa RS mengagumi foto itu...Tiba2 ada seorang yang menjewer telinga Sang Jun! Suami Young Sun! Young Sun dengan manja berkata pada suaminya, sayang..aku kan sudah bilang..kalau aku tidak mau periksa sendirian, Suaminya melotot ke arah Sang Jun, dan suami Young Sun sangar bo! Setelah suaminya pergi, Young sun berkata pada Sang Jun, hei..apa kau lihat..tadi suamiku cemburu, itu karena kau! Sang Jun berkata, aku benar2 ngeri dengan suamimu.. Young Sun berkata ia akan mengatur kencan untuk Sang jun utk membalas kebaikannya. Sang jun tiba2 ingat..astaga..jam berapa ini? Kencan!! Tae Hoon dan Hye Mi juga akhirnya berkencan. Sang Jun lari2 ia ikut blind date, dan ia kaget ketika melihat In hee! wow.. Sang Jun menyapa In hee, apa kabar lama tidak bertemu..In hee tersenyum, apa kabar. Keduanya bingung, apa yang kau lakukan di sini..ternyata keduanya ada kencan..dengan orang lain. Sang Jun menghadapi "calon-nya" yang berkata Sang jun bukan tipenya dan ia mengajukan banyak syarat. In hee juga menghadapi "calon-nya", seorang broker saham yang sangat membosankan dan yang berbicara tentang indeks KOSPI terus, kaya lihat market news.. Sang Jun dan In Hee bertukar pandang dan saling mengeluh dengan matanya.. Akhirnya, In Hee dan Sang Jun minum bersama. Sang Jun berkata In hee ini mirip Jin Ho, dan apa In hee tahu kalau In hee adalah tipe wanita idealnya. In Hee berkata, "Sang Jun..kau mau kencan?" Bwa...... Di Sang Go Jae, Jin Ho dan Kae in memandang langit malam. Kae in berkata, Jin ho apa kau tahu, Sang Go Jae itu adalah nama yang diberikan oleh ibuku, artinya dimana orang akan tinggal dan hidup bahagia bersama. Jin Ho berkata iya, itu impian orang tuamu, kita masukkan juga impian mereka dalam impian kita. Jin Ho dan Kae in berpelukan. Kae in Ramalan cuaca besok, Park Kae In, cuaca tidak selalu cerah dan terang, aku akan mengalami cuaca buruk, tapi selama ada pria ini disampingku, aku akan lebih berani, aku tidak akan apa-apa. Jin Ho Ramalan cuaca besok, Jeon Jin Ho, aku berlari sekuat tenagaku, pada akhirnya aku akan kembali ke impian awalku, tapi sejak aku bertemu wanita ini, aku berhenti sejenak dan tahu kalau aku bisa pergi lebih jauh lagi, aku tahu itu sekarang. T A M A T ================================================= Kae-in dalam keadaan syok menuju altar tempat In-hae dan Chang-ryul menikah. Semua orang kaget melihat Kae-in. Chang-ryul dan In-hae juga kaget serta tak menyangka Kae-in datang kesana. Kae-in membuka penutup muka In-hae dan tertunduk tak menyangka semua itu benar. “Maaf” kata terbata-bata “Maaf? Bukankah ini kata yang diucapakan ketika seseorang tidak sengaja mengijak kaki seseorang di bus? Kapan kalian memulainya?”.“Apa ini sangat penting? Chang-ryul sudah memilihku dan mau menikah denganku” kata In-hae sedikit kesal. Kae-in jadi seperti orang ling-lung dan syok. Chang-ryul berusaha membujuk Kae-in untuk pergi dulu dan kelak ia akan menyerahkan dirinya pada Kae-in. In-hae marah Chang-ryul berkata apa? Jadi temanmu harus menikahkah?” kata tak bisa tinggal diam, ia mendekati mereka dan memarahi In-hae serta mau memukulnya tapi Chang-ryul berhasil mencegahnya. Chang-ryul minta sekretaris Kim memanggil keamanan. Kae-in hanya tertunduk ling-lung saat keamanan menyeret dia dan Young-soon keluar. In-hae tidak peduli ia minta pernikahannya tetap dilanjutkan.“Perempuan jahat keluar kau…” teriak Young-soon marah. “Perempuan ini. Bukankah perempuan itu? kenapa dia masih datang cari masalah di sini” tanya Sang-joon pada Jin-ho.“Mungkin masalah selingkuh lagi” kata Jin-ho senang melihat pernikan Chang-ryul ketakutan ia melirik ayahnya yang berdiri karena marah dan malu.“Cepat mulai” kata Chang-ryul kemudian pada pembawa acara. Kae-in dan Young-soon dibawa ke ruang keamanan yang juga ruang operator. Kae-in dan Young-soon didudukan di kursi.“Sebelum pernikahan selesai, pastikan mereka tidak meninggalkan tempat ini. Mengerti?” kata asisten Kim pada petugas Young-soon menuju meja operator dan main-main tombol di sana. Asisten Kim mengenali Kae-in dan mengambil foto yang diberikan Chang-ryul tadi, dan ternyata fotonya terkena kotoran sehingga ia mengira Kae-in punya tahi lalat, ia jadi kesal sendiri memarahi Kae-in “Kau sudah lihat kan? Han Chang-ryul adalah orang jahat. Masalah sudah begini, kau malah mau dipermainkan dia”.Kae-in terlihat bingung, ia lalu mencoba kembali ke acara pernikahan tapi tak bisa karena ada banyak petugas keamanan. Anak Young-soon memencet tombol lagi. Kae-in berkata sedih “Lelaki yang menikah sekarang adalah lelaki yang sampai kemarin pacaran denganku”.Suara Kae-in terdengar ke seluruh ruangan pernikahan di gedung tersebut. Semua pasangan yang akan menikah hari itu kaget dan berhenti melakukan upacara pernikahannya.“Dan pengantin perempuan adalah teman baikku. Dia bilang mau menikah makanya aku datang mengucapkan selamat pada mereka. Semoga mereka bahagia dan aku masih membuatkan dia ranjang” kata Kae-in lagi.“Bodoh mereka sudah begini. Kamu malah tidak tahu apa-apa, masih datang kesini. Perempuan jahat, permainkan begitu banyak lelaki kenapa terakhir malah menikah dengan pacar teman sendiri” kata Young-soon jengkel. Sementara itu di tempat pernikahan lain mempelai wanita marah dan pergi dari altar setelah mendengar perkataan Kae-in dari speaker ruangan, si mempelai pria berusaha mengejar dan mencoba menjelaskan tapi gagal. “Bukankah beberapa hari lalu ia bilang masih pacaran dengan tuan Young-jun” kata mempelai wanita berhenti dan berkata bukan dia.“Bukan tuan Young-jun atau tuan Dong-jiang kan? Pacar terlalu banyak sampai aku pusing” kata Young-soon yang juga mendengarnya jadi kesal, Chang-ryul melirik In-hae. Para tamu ribut lagi dan ayah Chang-ryul sudah sangat kesal akhirnya pergi dari sana. Sang-hoon senang mendengar itu semua. Lelaki dingin yang berada pada pernikahan In-hae ternyata adalah Choi Do-bin pemilik proyek museum Damn. Ia juga pergi meninggalkan tempat itu. Jin-ho melihatnya, ia dan Sang-joon akhirnya juga ikut keluar mengejarnya. “Bukankah itu orang-orang Mirae perusahan Chang-ryul?” kata Sang-joon melihat segerombolan orang mendekati Do-bin tapi dicuekin.“Bukankah katamu kau punya kenalan di gedung Meishu?” tanya Jin-ho.“Meishu? Ya tentu” kata Sang-joon.“Bantu aku cari tahu sesuatu nanti ku telepon?” kata Jin-ho lalu pergi terburu-buru. Sementara itu Choi Do-bin menunggu lift untuk turun. Mempelai pria dan perempuan yang tadi bertengkar segera pergi menuju ruang operator.“Kalian sedang buat apa? Sekarang semua ruang pernikahan sedang mendengarkan ucapan kalian” kata seorang pegawai gedung dan Young-soon terkejut.“Hey bocah!” kata asisten Kim memanggil anak melindungi anaknya, lalu melihat para mempelai menuju kesana. Ia lalu menarik Kae-in untuk pergi dari sana, tapi terlambat para mempelai telah sampai dan minta penjelasan dari mereka.“Bukan… bukan… maaf” kata Young-soon. Kae-in bingung tak tahu harus bagaimana. Young-soon lalu mengajak Kae-in pergi tapi mereka malah berpapasan dengan In-hae yang pergi dari pernikahannya dan sedang dikejar-kejar Chang-ryul.“Sekarang hatimu sudah lega kah?” kata In-hae kesal.“Kau seharusnya memberitahuku dari awal. Maaf sudah mengganggu pernikahanmu” kata Kae-in terbata-bata.“Tidak apa-apa, kelak aku tak akan merasa bersalah padamu lagi” kata In-hae dingin.“Bocah ini” kata Young-soon marah dan menampar In-hae bagus… rasain.“Kamu mau merasa bersalah selamanya, bocah?” kata Young-soon marah lalu mengajak Kae-in pergi dari sana. Jin-ho turun dengan tangga ia berlari sambil berteleponan dengan Sang-joon. Jin-ho sampai parkiran ia menaiki mobilnya dan pergi mencari mobil Do-bin dengan berbekal nomor plat dari Sang-joon. Do-bin naik lift turun. Jin-ho menemukannya. Do-bin sampai di parkiran. Di jalanan Young-soon masih kesal sehingga mengomel sendiri “Bagaimana bisa demi seorang lelaki mengkhianati teman puluhan tahun. Mungkin kau terlalu lemah makanya bisa dikerjai orang seperti mereka”.“Young-soon” panggil Kae-in.“Apa? Katakanlah” kata Young-sun.“Saya jalan sendiri saja mulai dari sini” kata Kae-in.“Kenapa? Tak masalahkan kalau saya disamping?” kata Young-sun lagi.“Tidak masalah, jangan cemas” kata Kae-in.“Benarkah? Ada masalah?” tanya Young-sun.“Tentu ada masalah kalau kau bisa tidak ada masalah? Saya pergi dulu” kata Kae-in sedikit bingung kenapa Kae-in malah marah dengannya. Jin-ho menabrak mobil Do-bin dan sedang memberikan kartu namanya di mobil Do-bin saat Do-bin datang.“Apa ini?” tanya Do-bin.”Maaf. karena saya jalan terlalu buru-buru jadi tak sengaja menabraknya. Maaf sekali” kata Jin-ho sedikit takut untuk hanya bersikap dingin dan berkata “Sudahlah. Kamu tinggalkan cara kontak saja dan bisa pergi. Kasus dream art center yang kamu rancang tinggalkan bayangan yang sangat dalam buat saya” kata kaget Do-bin mengenalinya.“Hari ini agak tidak bebas. Lain hari kau harus hubungi saya” kata Do-bin sambil mengeluarkan kartu dengan hormat menerimanya. In-hae kesal ia menghancurkan dekorasi pernikahan yang ia temui dan ia sedang mencoba pergi dari gedung pernikahn tersebut. Chang-ryul mencoba mencegah dan berkata bahwa ia telah bilang pada Kae-in dan sudah memberikan undangannya. Tapi In-hae tak mau dengar ia berkata, ia menjadi malu sekali dan semua karena Chang-ryul. ia juga berkata bahwa Chang-ryul seorang pembohong. Chang-ryul tak terima ia juga menyalahkan In-hae karena ia juga berbohong tentang masalah Young-joon pacar lain yang dibilang Young-sun. Chang-ryul mencoba merayu dan berkata ia tidak akan mempermasalahkan masa lalu asal mereka sekarang bersama. Tapi In-hae terlalu kesal, ia minta tiket bulan madu pada Chang-ryul. Chang-ryul menyerahkan tiket itu dan berkata dengan senang bahwa mereka sebaiknya memang pergi bulan madu dulu baru menikah kemudian we apa ini... In-hae tambah kesal dan hampir memukul Chang-ryul. Ia berkata, ia sudah gila jika mau pergi dengan Chang-ryul. In-hae lalu naik mobil pengantin dan pergi dari sana.“Sukurlah tidak ditampar” kata asisten Kim, tapi tiba-tiba seseorang melempar sesuatu pada Chang-ryul dan menamparnya. Orang itu adalah ayah Chang-ryul, ia marah “Sebagai lelaki sejati, tidak ada perempuan lain kah? Menikah dengan perempuan seperti ini”.“Ayah” kata Cahng-ryul kaget.“Ayah? Anak harus ada bentuk anak juga baru ada ayah, makanya kamu jangan penggil saya ayah tahu?” kata ayah Chang-ryul sebelum hanya bisa Kim mendekatinya dan berkata “Saya kasihan tadi ditinggalin istri sekarang pun tidak bisa pangggil ayah”.Mendengar itu Chang-ryul malah jadi marah dan menyalahkan asisten Kim yang membiarkan Kae-in masuk. Kae-in yang masih syok dengan kejadian tadi menyebarang jalan dengan pelan sambil memikirkan kejadian tadi sehingga ia hampir tertabrak. Jin-ho yang berkendara pulang dengan Sang-joon melihat Kae-in dengan iba melihat Kae-in menagis dijalanan. Saat sampai di kantor Sang-joon bercerita bahwa proyek museum Damn ini mulanya akan diserahkan pada arsitek luar negeri tapi tidak jadi dan ketua Choi akan membiarkan arsitek luar itu untuk menjadi juri. Sang-joo berkata pada Jin-ho jika itu benar, ini akan membuat persaingan akan berjalan dengan jujur. Tiba-tiba Tae-hoon datang, Sang-joon berkata Tae-hoon sudah kalah taruhan seharusnya ia tidak datang lagi ke kantor. Tapi Tae-hoon bersikeras tak mau keluar, Jin-ho menyuruh Sang-joon memidahkan meja Tae-hoo keluar. Tae-hoon berusaha mencegahnya, tapi Sang-joon tak peduli ia mengancam tidak akan menggaji Tae-hoon. Sang-joo lalu masuk keruangan Jin-ho dan menguncinya. Tae-hoon menyusul dan menggedor-gedor pintu sambil berkata kalau ia punya informasi tentang proyek museum Damn. Tapi Sang-joon dan Jin-ho tak peduli. “Pernah dengar Sang Go-je kah?” kata Tae-hoon, Sang-joon dan Jin-ho menoleh tertarik. Di rumah Kae-in beberapa rentenir datang mencari Won-ho. Won-ho sendiri bersembunyi tak jauh dari sana, ia berusaha menelepon Kae-in untuk memberi tahu agar tidak pulang ke rumah dulu. Tapi Kae-in yang sudah hampir sampai rumahnya tidak mau mengangkat telepon dari Won-ho lagi. Won-ho meninggalkan pesan, ia minta maaf karena telah meminjam uang 10 juta dibelakang Kae-in dan berjanji akan mengembalikannya. Salah seorang rentenir melihat Won-ho dan mengejarnya. Para rentenir meninggalkan surat peringatan di rumah Kae-in. Kae-in sampai rumah dan melihat beberapa surat berserakan dihalamannya. Kae-in mengambil semuanya. Ia melihat undangan Channg-ryul dulu dan sadar Chang-ryul orang yang seperti apa, kemudian membaca surat peringatan dari rentenir. Kae-in kaget ia langsung bergegas masuk rumah mencari sertifikat rumahnya tapi sudah tak ada dan mendapatkan surat perjanjian Won-ho dengan rentenir. Kae-in kesal ia berusaha menelpon Won-ho tapi tak kantor Jin-ho, Tae-hoon berkata kalau ayahnya adalah teman bos gedung Meishu sehingga tahu kalau bos itu menyukai rancangan Prof. Park dan meminta tolong ia merancangkan proyek musem tapi di tolak, tapi tetap menyukai rancangan Prof. Park. Jin-ho meminta Sang-joon menyelidiki tentang Sang Go-jae. Ayah Kae-in menelepon dan mengatakan kalau ia akan pulang bulan Mei, Kae-in kaget dan jadi panik karena dengan keadaannya sekarang ia bisa di marahi ayahnya. Kae-in melihat tabungannya tapi uangnya tak cukup ia lalu berlari ke kamar In-hae. Dan saat sampai di sana ia baru sadar In-hae sudah pergi. Lalu Young-soon meneleponnya, Kae-in bercerita tentang keadaannya sehingga Young-soon datang untuk melihat keadaan Kae-in. Tapi Keadaan Kae-in jadi aneh ia mengenakan baju jaket dengan tutup kepala dan makan dengan lahap di tempat yang gelap. Kae-in senang Young-soon datang, ia lalu mencoba untuk pinjam uang, tapi Young-soon menghindar dan berkata kalau mereka bukan saudara. Kae-in kesal dan menyuruh Young-soon pergi saja. Young-soon mengusulkan Kae-in menceritakan hal yang sebenarnya pada Ayahnya, Kae-in kesal karena Young-soon tahu hubungannya dengan ayahnya tak begitu baik. Young-soon jadi heran dengan hubungan ayah-anak ini dan kenapa Ayah Kae-in begitu mencintai ibu Kae-in. Kae-in jadi tersinggung. Young-soon minta maaf dan beralasan ia merasa kasihan pada Kae-in karena Kae-in hanya mempunyai ayahnya tapi hubungan mereka malah tidak baik. Jin-ho membaca buku tentang Sang Go-jae, Sang-joon bercerita bahwa kabarnya ketika Sang Go-jae sudah hampir selesai dibangun, istri Prof. Park meninggal. Dan 30 tahun setelah itu berita tentang Sang Go-je tak pernah keluar lagi. Sang-joon melihat Jin-ho begitu tetarik dengan Sang Go-je ia lalu bertanya apa yang membuat Jin-ho tertarik. “Prof. Park sekarang tinggal di Inggris, lalu siapa yang tinggal di sana sekarang?” tanya Jin-ho heran. “Kabarnya anak perempuannnya tinggal di sana” kata Sang-joon enteng. Tiba-tiba Sang-joon dapat ide jika anak Prof. Park perempuan ia menyarankan Jin-ho turun tangan sendiri, karena dengan ketampanan Jin-ho ia pasti bisa menarik perhatian anak itu. “Jangan bicara sembarangan, konsentrasi lah!” kata Jin-ho kesal. Sang-joon berkata ia sungguh-sungguh dan berkata kalau kabarnya istri Prof. Park itu cantik, jadi ia merasa anak Prof. Park juga pasti cantik seperti ibunya. Jin-ho tak peduli ia berkata, ia akan pergi ke gedung Meishu besok dan menyuruh Sang-joon datang ke Sang Go-jae lihat-lihat. Kae-in bermain miniatur kursi goyang ia teringat ibunya dan berkata pada dirinya sendiri “Aku sangat ingin mendapat pengakuan dari ayah, sehingga begitu berusaha dengan keras tapi akhirnya malah jadi seperti ini. Hari ini saya bisa menangis, jadi biarkan hari ini saya lemah. Besok pagi saya akan tabah lagi ibu. Saya anak ibu yang paling tabah Kae-in. Ibu…”. Kae-in menangis semalaman hari itu. Keesokan harinya Kae-in menelepon seorang peramal. Ia bercerita tentang keadaannya, si peramal bilang seseorang dari timur akan berjasa bagi hidup Kae-in kelak. Kae-in bertanya apakah orang itu perempuan atau pria. Si peramal bilang tidak laki-laki atau perempuan, Kae-in jadi bingung. Peramal kesal karena Kae-in curiga padanya, Kae-in beralasan saat ini ia terlalu sial jadi harus hati-hati padahal peramal itu hanya seorang pengguna internet biasa.. kasihan banget sih. Kae-in bertanya berapa yang ia harus bayar untuk konsultasi itu, peramal bilang 50 detik pertama gratis, Kae-in lega. Tapi peramal bilang lagi setelah 50 detik itu setiap 30 detik bayar 1500 won. Kae-in kaget, ia langsung meihat sudah berapa lama ia menelpon. Ia tambah kesal karena sudah tak punya uang lagi tapi ia teringat kata peramal itu “Sebelah timur…”. Lalu tiba-tiba ada suara bel, Kae-in membuka pintu rumahnya dan ternyata yang datang adalah Sang-joon yang datang dengan membawa dan Sang-joo kaget melihat masing-masing. “Kau.. kau bukahkah yang datang ke pernikahan kemarin”.“Bukan” kata Kae-in sambil menutup mukanya dan masuk ke dalam lagi karena masih kaget dengan pertemuan itu, ia lalu sadar kalau Kae-in adalah anak Kae-in keluar lagi, Sang-joon kaget melihatnya. Kae-in bertanya apa Sang-joon berasal dari timur. Sang-joon berkata bukan, Kae-in kecewa dan masuk rumah lagi tapi keluar lagi dan berkata “Sebaiknya kamu tinggalkan lelaki tak normal itu saja, kelihatannya kamu dibohongi”.Kae-in masuk lagi, Sang-joo bingung dan mengira Kae-in jadi gila karena kejadian kemarin, tiba-tiba ada telepon dari Jin-ho. Sang-joon berkata ia sudah sampai di Sang Go-he tapi ada sedikit masalah dan akan pergi menemui Jin-ho untuk menjelaskannya. Kae-in mendapat telepon dari pemilik toko yang memesan mejanya waktu pameran dulu. Mereka minta untuk bertemu dan Kae-in dangan senang menyetujuinya. Tapi saat mereka bertemu, ternyata pihak toko berkata mereka ingin membatalkan pemesanan, Kae-in jadi sangat tambah datang ke gedung Meishu dan bertemu dengan Do-bin yang sedang jalan dengan ayah Chang-ryul. Ayah Chang-ryul terlihat tidak senang bertemu Jin-ho. Do-bin merasa ada yang aneh, ayah Chang-ryul lalu berpura-pura baik pada Jin-ho dan mengajaknya makan bersama dengan Do-bin. Tapi Jin-ho menolak dengan halus. Ayah Chang-ryul bertanya ada urusan apa Jin-ho datang kesana, ia hanya berkata ada urusan yang harus diurus. Do-bil lalu bilang bahwa kantor M-nya Jin-ho juga ikut tender gedung Chang-ryul kaget dan sebelum pergi dengan Do-bin ia berkata “Anak muda baik dengan orang adalah baik, tapi harus mengerti keadaan diri. Saya bilang begini bukan tertuju padamu”.Jin-ho kesal karena ia tahu itu memang untuk dirinya. Jin-ho teringat saat ia dan ibunya harus pergi meninggalkan rumahnya yang diambil ayah Chang-ryul. Tiba-tiba Sang-joon datang membuyarkan lamunan Jin-ho itu. Sang-joon heran kenapa ketua Choi Do-bin jalan dengan ketua Han Ayah Chang ryul, ia curiga ketua Han ingin berbuat curang seperti proyek Dram art kemarin. Jin-ho tak mau membahasnya dan bertanya bagaimana dengan hasil penyelidikan Sang Go-jae. Sang-joo berkata ada masalah besar dan jika Jin-ho tahu ia akan merasakan goncangan seperti terjadi gempa besar.“Apa maksudmu?” kata Jin-ho tak mengerti.“Perempuan itu adalah anak perempuan yang kita cari itu. perempuan yang mengahancurkan pernikahan Chang-ryul, perempuan yang rancangannya sangat aneh adalah anak perempuan Prof. Park” kata Sang-joon.“Apa?” kata Jin-ho kaget.“Rumah yang 30 tahun tidak dibuka untuk umum lagi masih di tangan perempuan itu. Menurutmu apa ia akan mengijinkan kita masuk melihat-lihat? Atau kita menyerah saja? Saya tak pernah berkata seperti ini tapi sebaiknya kamu berhenti saja! itu baru benar” kata Sang-joon.“Kita masih belum mencoba” kata Jin-ho.“Kamu… kamu harus tahu kalau kali ini kita gagal kita akan mendapat tekanan yang besar pada perusahaan. Kamu jangan masukan perasaan pribadimu” kata Sang-joon sedikit kesal.“Hyung, saya pasti bisa melakukannya” kata Jin-ho meyakinkan. Chang-ryul sedang sibuk menerima ucapan dari ibu-ibunya, ia berbohong kalau acara pernikahannya berjalan lancar Ibu Chang-ryul ada tujuh orang.. wow. Tiba-tiba ayah Chang-ryul menelepon, Chang-ryul dengan sedikit perasaan takut menerimanya. Ayah Chang-ryul memukul Chang-ryul saat mereka bertemu, ia marah dan menanyakan dimana Chang-ryul bersembunyi selama ini. Chang-ryul beralasan bukankah ayahnya sendiri yang tak mau menemuinya sehingga ia tinggal di apartemennya. Ayahnya kesal dan mau memukul lagi tapi tak jadi, ia lalu bercerita tentang Jin-ho yang juga tertarik dengan proyek museum Damn. Chang-ryul kaget, ia heran kenapa Jin-ho tidak menyerah bersaing dengannya terus. Ayah Chang-ryul khawatir karena taktik mereka kemarin tak dapat digunkan kali ini. Chang-ryul berkata ayahnya tak perlu cemas karena ia tak akan membiakan Jin-ho menang. Chang-ryul lalu mau membahas masalah In-hae, tapi ayahnya langsung marah tak mau membahasnya dan mengancam Chang-ryul Jin-ho datang ke rumah Kae-in tapi Kae-in tak ada di sana. Kae-in sedang mengambil kembali meja-mejanya. Di dalam truk pengangkut meja itu Young-soon prihatin dengan nasib Kae-in, ia menyarankan agar kamar In-hae dulu di sewakan saja. Kae-in kesal ia marah karena ia tak mau melibatkan orang luar lagi dan lagipula bila ayahnya tahu ia akan dimarahi. Young-soon bilang sudah tidak ada cara kain, Kae-in akhirnya mau tak mau menyetujuinya. Won-ho sedang memperhatikan rumah Kae-in dan heran melihat Jin-ho yang memotret rumah itu dari luar. Kae-in dan Young-soon sudah hampir sampai rumah, mereka melihat Won-ho yang sedang mengintip. Kae-in langsung minta turun dari truk dan mengejar Won-ho. Tapi Won-ho terus kabur begitu melihat Kae-in. Melihat Kae-in berlari Jin-ho ikut berlari. Ia menegur Kae-in sambil berlari sehingga Kae-in kaget dan terjatuh hingga kakinya terkilir. Kae-in memohon agar Jin-ho menangkap Won-ho untuknya. Jin-ho merasa kasihan dan berlari mengejar Won-ho. Kae-in dengan kaki terpincang ikut mengejar dibelakang. Jin-ho berhasil memojokan Won-ho, Kae-in datang dan bertanya tentang uangnya. Ia bertanya apakah masih ada sisanya, Won-ho berkata uang itu sudah habis. Kae-in kecewa dan marah pada Won-ho. Kae-in tiba-tiba melihat Jin-ho, ia heran kenapa Jin-ho masih ada disana. Jin-ho ingin minta balasan dari Kae-in sebagai tanda terima kasih. Kae-in semakin kesal pada Won-ho tapi melihat keadaan Won-ho sekarang ia jadi prihatin dan mengajaknya makan. Di restoran Kae-in bercerita ia sangat membutuhkan uang itu karena 3 bulan lagi ayahnya akan pulang. Jin-ho yang juga ada di sana jadi tertarik mendengarkan pembicaraan Kae-in dan Won-ho. Kae-in juga berkata ia terpaksa akan menyewakan kamar In-hae pada orang lain. Jin-ho jadi dapat ide begitu mendengar tentang sewa kamar itu. Melihat keadaan Kae-in sekarang Won-hoo jadi ingin kabur, ia beralasan ingin pergi ke kamar kecil. Kae-in membiarkannya saja, Jin-ho melihatnya heran. Ia menegur Kae-in dan berkata kalau Won-ho sedang berusaha kabur. Mulanya Kae-in tak percaya karena ia tahu Won-ho tak akan bohong, tapi melihat Won-ho keluar restoran Kae-in berusaha mengejarnya tapi gagal karena kakinya masih sakit. Jin-ho menegur Kae-in yang mudah percaya pada orang lain, ia juga menyarankan agar Kae-in pergi ke rumah sakit. Kae-in menolak tapi Jin-ho memaksa. Di rumah sakit Jin-ho membayar biaya pengobatan dan mau mengantar Kae-in, Kae-in jadi heran. Jin-ho berkata jika Kae-in mau mengucapkan terimakasih itu masih kurang. Kae-in lalu berkata ia kan membayar uang perawatannya, Jin-ho berkata bahwa ada cara lain tanpa menggunakan uang untuk berterimakasih kepadanya. Di mobil saat mengantar Kae-in pulang, Jin-ho berkata agar Kae-in membiarkannya masuk dan melihat-lihat Sang Go-jae. Kae-in kaget, darimana Jin-ho tahu nama rumahnya, ia bertanya apa Jin-ho orang suruhan ayahnya. Jin-ho berkata kalau ia tak tahu siapa ayah Kae-in dan beralasan kalau ia sedang mencari rumah dan seharusnya Kae-in membiarkannya masuk. Kae-in kesal karena ia belum menyutujuinya. Jin-ho beralasan kalau Kae-in sekarang sedang membutuhkan seorang penyewa. Kae-in menatap Jin-ho heran, darimana Jin-ho tahu ia sedang mumbutuhkan penyewa. Jin-ho berkata kalau ia mendengranya tadi di sampai rumah, Kae-in langsung mengucapkan terima kasih dan akan membalas budinya lain kali. Jin-ho berkata tidak usah membalasnya, cukup membiarkan Jin-ho masuk lihat rumah itu saja. Kae-in beralasan kalau ia tidak bisa membiarkan orang asing masuk rumahnya, ia kemudian turun dan mau langsung masuk rumah. Jin-ho mengejarnya dan bertanya kenapa Kae-in mau menyewakan rumahnya kalau tidak bisa membiarkan orang asing masuk rumahnya. Kae-in tetap pada pendiriannya ia beralasan tidak berniat mau menyewakannya pada Jin-ho. Jin-ho mengejarnya lagi dan menyuruh Kae-in mempertimbangkannya lagi. Kae-in berhenti di depan pintu masuk ia kaget melihat surat peringatan yang tertempel di pintu itu. Kae-in membuang surat itu dan Jin-ho mengambilnya. Jin-ho heran kenapa Kae-in menggadaikan rumahnya.“Apa kau pijam uang?” tanya kesal dan berkata itu tak ada hubungannya dengan Jin-ho. Jin-ho menasehati Kae-in agar menyelesaikan masalah itu dulu dengan membiarkannya menyewa kamar baru memikirkan hal lain. Kae-in beralasan kalau ia hanya bisa menyewakannya pada perempuan bukan laki-laki. Tiba-tiba Young-soon keluar membukakan pintu. Ia tanya apa Kae-in berhasil mengambil uangnya lagi, Kae-in hanya menggeleng. Young-soon merasa kasihan pada Kae-in, ia lalu melihat kaget dan berkata “Kamu yang ada di pernikahan kemarin kan? Kenapa kalian berdua bisa..”.Kae-in menyuruh Jin-ho pulang saja. Jin-ho minta kae-in mempertimbangkan lagi. Kae-in dan Young-soon masuk rumah, Jin-ho terlihat kecewa tapi tiba-tiba Young-soon keluar dan berkata “Meski aku tak tahu apa yang terjadi, tapi kamu tunggulah disini saya akan menasehatinya”.Young-soon menasehati Kae-in agar membiarkan Jin-ho menyewa kamar. Kae-in menolak karena ia tidak mungkin menyewakannya pada laki-laki. Young-soon berkata Kae-in tak perlu cemas karena mereka jelas tahu kalau Jin-ho tak mungkin kurang ajar pada Kae-in Jin-ho tak tertarik pada wanita pikir mereka. Young-soon juga beralasan kalau yang menyewa perempuan pun tak ada untungnya malah akan mengkhianatinya seperti In-hae. Ia menyarankan agar Kae-in membiarkannya saja dan jika ia tidak puas setelah terima uang darinya bisa mengusirnya. Ia juga berkata kalau ia membiarkan Jin-ho itu akan lebih bagus, Kae-in membayangkan bisa melakukan hal-hal yang ia bisa lakukan dengan teman wanita dengan Jin-ho seperti memasak untuknya, shoping bersama, dan merawat wajah bersama. Young-soon memanggil Jin-ho masuk, Kae-in sebetulnya masih sedikit tidak rela. Jin-ho masuk dan melihat-lihat Sang Go-jae emang keren ni Sang Go Jae. Jin-ho kembali ke kantor M, Sang-joo cemas karena Jin-ho pergi seharian dan tidak bisa dihubungi. Jin-ho berkata kalau ia pergi lihat rumah. “Rumah apa? Kamu mau pindah tinggal karena Hye-mi itu?” tanya Sang-joon.“Ada alasan itu juga dan ada hal-hal kecil lainnya” kata Jin-ho.”iya, dimana?” tanya Sang-joon.“Di Sang Go-jae” kata Jin-ho enteng.“Apa? Sang Go-jae?” kata Sang-joon kaget.“Benar. Hyung saya sudah mau tinggal di sana” kata Jin-ho sambil tersenyum senyumnya… mengalahan senyum Lou xi… hehe.“Kenapa bisa?” kata Sang-joon ikut senang.“Harus dirahasiakan dari Hye-mi dan Tae-hoon?” kata Jin-ho memperingatkan.“Benar. Tentu. Kamu memang sangat hebat jadi sekarang bisa langsung masuk kah?” kata Sang-joon.“Tentu” kata Jin-ho.“Pergilah, bagus sekali…” kata Sang-joon datang ia memandang curiga Jin-ho dan Sang-joon. Tapi mereka tak peduli dan langsung pergi dari sana. Young-soon memberi selamat Kae-in, tapi Kae-in masih merasa tidak enak tinggal dengan laki-laki. Kae-in juga berkata kalau setiap bertemu dengan Jin-ho selalu terjadi hal yang tidak bagus. Young-soon menasehati Kae-in agar memaafkan Jin-ho, dan berkata kalau Jin-ho itu sebenarnya ganteng. Sang-hoon mengantar Jin-ho pindah ke Sang Go-jae, ia terus merasuki Jin-ho kalau Kae-in itu ada maksud pada Jin-ho. Ia juga berpesan agar Jin-ho jaga kesehatan dan berkata “Demi keuntuhan perusahaan, korbankan tubuhmu lah”.Jin-ho tentu saja kesal mendengarnya dan langsung mau masuk Sang Go-jae sendiri. Sang-joon mencegah, Jin-ho berkata “Jangan bicara kata menjijikan seperti itu”.Kae-in dan Jin-ho menandatangani surat perjanjian. Kae-in dan Young-soon heran Sang-joon ada disana.“Itu… bukankah ada begitu?” kata Sang-joon mencoba menjelaskan.“Kalian berdua sepertinya sudah lama kenal?” tanya Young-soon.“Tentu, sudah sangat lama. Orang ini sangat pemilih, jadi bukan sangat mudah. Tapi bagaimana kamu tahu kami kenal sangat lama?” kata Sang-joon.“Saya suka memperhatikan seseorang” kata Young-soon.“Tidak boleh perhatikan Jin-ho kami seperti itu” kata Sang-joon sambil menepuk paha Jin-ho.“Hyung, jangan cerewet” kata Jin-ho.“Dasar, kalian berdua mesra sekali” kata berkata karena akan hidup bersama jadi ada beberapa hal yang harus diperhatikan Jin-ho, yakni tidak boleh memotret atau merekam rumah ini karena ayahnya tidak suka. Jin-ho dan Sang-joo saling melirik.“Kulkas dan mesin cuci dipakai bersama, itu saja” kata Kae-in lalu mau pergi.“Tunggu, saya ada banyak pertanyaan sensitif” kata Jin-hoo.“Apa?” tanya Kae-in.“Pertama, rumah terlalu kotor. Waktu saya ada, tolong perhatikan masalah kebersihan. Makanan yang saya taruh di kulkas tolong jangan sentuh sembarnagan. Saya percaya juga, kalian tidak akan mencampur pakaian saya dengan kalian” kata kaget tak percaya mendengarnya, ia jadi kesal lalu meminta dibuat surat perjanjian baru dan meminta Jin-ho jangan sembarangan keluar masuk ruangannya.“Bagaimana kalau melanggarnya?” tanya Jin-ho.“Gunting” kata Kae-in kesal.“Gunting apa?” kata Jin-ho dingin.“Tentu gunting bagian laki-laki itu” kata Kae-in hehe.Young-soon dan Sang-joo mencoba meredakan suasana dan berkata kalau mereka berdua ternyata suka bercanda. Sang-joon membantu Jin-ho membereskan kamarnya. Tiba-tiba Jin-ho menabrak sesuata dan kakinya terluka. Sang-joon menyuruh Jin-hoo buka celananya agar bisa dikasih obat merah, tapi Jin-ho menolak. Di luar Young-soon menguping dan mendengar rintihan Jin-ho rintihan kesakitan karena luka bukan???. Kae-in mencoba mencegah Young-soon agar berhenti menguping tapi ia juga malah mendengar rintihan Jin-ho, ia jadi berpikir macam-macam. Kae-in menarik Young-soon menjauh dari kamar Jin-ho, ia kesal pada Jin-ho karena menganggap ia mata keranjang. Young-soon tak mengerti, Kae-in menjelaskan kalau ia kemarin melihat Jin-ho di hotel dengan seorang laki-laki yang begitu kacau. “Benarkah? Tapi kenapa kamu ke hotel?” tanya Young-soon.“Jangan tanya lagi” kata Kae-in tak mau mengingat kejadian malam ingin menegur Jin-ho agar tidak membawa masuk pria sembarangan.“Perempuan jahat cinta ada salahkah?” kata Young-soon Sang-joon dan Jin-ho keluar, Sang-joon pamit pulang. Kae-in langsung mau mengatakan peraturan barunya tapi di cegah di apartemennya sendirian. Tiba-tiba In-hae datang dari tamasya. Karena lampu mati In-hae merasa tidak ada orang di sana ia langsung berganti pakaian dan pergi tidur. Tapi saat mau tidur ia merasa ada seseorang di keranjangnya ia menoleh dan kaget melihat orang di sana. In-hae langsung berlari menyalakan lampu dan ternyata orang itu adalah Chang-ryul. In-hae kesal kenapa Chang-ryul ada di sana. Chang-ryul beralasan ia sudah di usir ayahnya dan tidak ada tempat untuk pergi selain di sana. In-hae tetap kesal dan menyuruh Chang-ryul pergi dari sana. Chang-ryul tak mau ia berkata kalau rumah itu milik ayahnya, In-hae jadi kesal dan berkata kalau ranjang itu adalah buatan Kae-in untuknya. Mereka lalu saling mengklaim barang masing-masing. Jin-ho sedang melihat-lihat Sang Go-jae. Hye-mi mencoba menelepon Jin-ho dan mencari tahu di mana Jin-ho karena sudah malam tidak juga pulang. Tapi Jin-ho tak mau mengangkatnya. Ibu Jin-ho mencoba menenangkan Hye-mi dan berkata kalau Jin-ho tidak akan menolak jika ia yang menelepon. Dan benar Jin-ho mengangkat telepon ibunya saat berada di sebuah ruangan yang gelap. Ibunya menanyakan di mana Jin-ho sekarang. Jin-ho berkata sekarang ia tak bisa mengatakannya, dan berjanji akan meneleponnya kembali nanti. Tiba-tiba Kae-in datang, ia membuka pintu sedikit dan dengan muka yang sedikit menyeramkan ia tanya apa Jin-ho lupa dengan peringatannya. Jin-ho berkata peringatan yang mana. Kae-in membuka pintu lebar dengan sebuah gergaji. Jin-ho lari terbirit-birit karena takut. Kae-in melihatnya dan merasa bersalah ia tidak menyangka Jin-ho akan berlari kencang padahal ia hanya menakut-nakutinya sedikit wkwk... Jin-ho kembali ke kamarnya, ia merasa kesal karena dikerjain Kae-in. Kae-in menuju ke kamar Jin-ho untuk minta maaf tapi tiba-tiba ada orang masuk rumahnya. Ternyata orang itu In-hae.“Kenapa kamu muncul di depan saya?” kata Kae-in terbata-bata karena kaget.“Saya masuk rumah saya sendiri, butuh persetujuanmu kah?” tanya In-hae.“Apa?” kata Kae-in bingung.“Saya sudah putus dengan Chang-ryul bukankah sudah bisa kembali kesini?” kata tersenyum pahit dan berkata “Kamu memang keren”.“Kita tidak usah begini karena seorang laki-laki” kata In-hae sambil menuju masuk mencegah dan bertanya dengan terbata-bata lagi “Apa kamu sudah lupa masalahnya?”.“Jadi kamu mau gimana lagi? Karena kamu, pernikahanku sudah batal, tidak ada tempat pergi, dicaci di kantor juga. Kamu ingin gimana lagi?” kata In-hae sedikit menghela nafas dan berkata “Orang yang tidak tahu masih menyangka saya rebut pacarmu”.“Pacar? kamu memang sangat lucu” kata In-hae menyindir.“Apa?” kata Kae-in bingung.“Kamu merasa kamu pernah anggap Chang-ryul sebagai pacarkah?” kata In-hae.“Kamu bilang apa?” kata Kae-in masih bingung. “Park Kae-in, kamu tahu apa itu cinta? Pernah bercinta baru bisa tahu apa itu cinta” kata In-hae jangan ditiru ya.. ini omongan orang yang ga tau cinta… *sok tau.. hehe*.Kae-in tak terima “Kamu memang sudah pernah lihat banyak cinta. Rebut pacar orang, dan berbohong. Masih beginikah?”.“Tapi saya tidak pernah ngemis cinta sepertimu. Simpati dan cinta pun kamu tak dapat. Laki-laki karena merasa kasihan makanya memperhatikan kamu sedikit, lalu kamu merasa itu adalah cinta?” kata In-hae.“Kamu!” teriak Kae-in tak tahan lagi, ia kemudian menyerang In-hae. Jin-ho yang tak tahan mendengar ribut-ribut melihat keluar. In-hae kaget melihat Jin-ho. Kae-in kesal dan bertanya apa Jin-ho keluar untuk melihat orang ribut. Jin-ho juga kesal ia berkata agar Kae-in tenang sedikit karena bukan cuma Kae-in yang tinggal di sana. Jin-ho kemudian masuk kamar lagi. “Siapa lelaki itu?” tanya In-hae.“Buat apa kamu tahu?” kata Kae-in.“Park kae-in, kamu tidak baik hidup begini, mana bisa dengan mudah suruh laki-laki kesini dan laki-laki itu masih begitu muda” kata In-hae.“Kenapa? Lelaki itu pun kau mau juga kah? Mau merebut dia juga kah?” kata Kae-in kesal.“Saya tak pernah merebut, mereka sendiri yang datang” kata In-hae.“Tetapi lelaki itu, kau tak akan bisa” kata Kae-in.“Kenapa tak bisa? Lelaki seperti apapun, akan ku taklukan dalam sepuluh menit saja” kata In-hae.“Walapun kamu lahir ulang lagi, kamu bukan tipe orang itu juga” kata Kae-in kesal.“Benarkah? Lihat lah” kata In-hae menuju kamar Jin-ho.“Bisa rebut sudah aneh. Lelaki itu adalah gay” kata yang ada di kamarnya dan mendengar sejak tadi jadi kaget bukan main. 142 April 5, 2010January 24, 2016 Personal Taste Episode 2 by girlfriday girlfriday here, making a comeback! Ever notice in Korea how nobody goes anywhere, but everyone makes a comeback? Yes, that’s the size and relative roundness of Jin-ho’s butt, in case you were wondering. And yes, that’s pretty much the expression that accompanies the grabbing of said butt. This episode brings our leads together under one roof, and the hijinks? They do ensue. So far the tropes feel familiar, other than the main twist, but the characters are interesting and well-acted, so I’m aboard the train. Here’s hoping we go to new and exciting places! EPISODE 2 RECAP Kae-in stands agape in front of her ex-boyfriend Chang-ryul and ex-roommate/ex-friend In-hee, stunned at their Affront to Human Decency, also known as their wedding. Kae-in looks more hurt and betrayed by In-hee, who as her friend and you know, a human being, should seem more remorseful than if she had stolen your parking space or taken the last cookie. But before they can really have it out, Chang-ryul has security drag Kae-in and Young-sun out of the wedding. The security team traps them in the sound booth, where of course Young-sun’s son happens to turn on the loudspeaker so that all the wedding chapels can hear Kae-in lament that the groom cheated on her with the bride, who she thought was her friend. Young-sun chimes in that In-hee’s no angel either; she’s been juggling a number of guys recently herself. Both In-hee’s ceremony and another wedding stop in their tracks and the parties come storming over to the sound booth. Young-sun and Kae-in try to make a run for it, realizing the mess they’ve made, and In-hee comes huffing up, indignant that THEY’ve ruined HER wedding. Where do I even begin with the crazy? Young-sun, being the only sane one here, slaps In-hee unceremoniously across the face. Nice. Back the other way? No? I’m fairly certain she deserves a second slap. Or a sixtieth. Outside, Young-sun tries to cheer Kae-in up, but she just wants to be alone. Yeah, right after the fact is too soon to hear the buck-up-kiddos and it’s-all-for-the-betters. Kae-in trudges off to do a little moping on her own. Meanwhile, Jin-ho has been trying to casually run into Choi Do-bin, his whole reason for coming to this fiasco of a wedding in the first place. He and Sang-jun notice someone else getting dismissed by him for trying to approach him at a non-work event, so Jin-ho decides to try a riskier tactic. He rushes downstairs, finds the guy’s car, and crashes into it. At first I think he’s nuts not a way to win a guy’s favor but as it turns out, Do-bin is quite unflapped, and even recognizes Jin-ho as the architect who made a good pitch for the Dream Art Center. Jin-ho scores a meeting, and all it took was a dent in his car. Sneaky! Back at the wedding of soulless bloodsuckers, Chang-ryul chases after In-hee, insisting that he did his part in telling Kae-in about the wedding. In-hee doesn’t believe him because she ain’t no fool, and decides to break it off and go on their honeymoon…alone. I hope you go someplace where they still have smallpox or malaria. I have to say, Chang-ryul, while still being a dog, is definitely the more sympathetic of the two, as he is treated like a second-class citizen by both In-hee and his father, and is a hilarious wimp to boot. Kae-in walks home, still in a daze from the events of the day. She zombie-walks through an intersection, unaware that she’s holding up traffic. The tears come flowing while cars honk at her, and Jin-ho sees her pass by. Jin-ho and Sang-jun get back to the office, where they are greeted by a frantic Tae-hoon, who begs for his job back, offering up a carrot he’s got a secret tip on the new museum project that Jin-ho is crashing cars trying to get. Is crazed and desperate going to be the only mode for this side character? As Kae-in walks back home, her employee and “friend” Won-ho is hiding out from a couple of thugs who have come looking for him at her house. Using the term “friend” loosely, as this girl seems to have surrounded herself with backstabbing vapidity and take-advantage-of-drunken-girl thievery as her friends. Between In-hee and Won-ho, who needs enemies? Kae-in doesn’t pick up Won-ho’s calls, but does see the collection letter once she gets home. He’s apparently borrowed the equivalent of $10,000 against the house, don’t ask me how he managed to do so leaving Kae-in neck-deep in debt and in danger of losing her home. Talk about a bad day. Over at Jin-ho’s office, he and Sung-jun are getting the lowdown on the museum project from Tae-hoon. He tells them that according to his father, the head of the company who owns the museum fell in love with a han-ok traditional Korean-style house built by a renowned architect. He tried to hire said architect for the museum project, but the offer was declined. That architect is no longer in the picture, but the CEO still has lingering hopes for that style of architecture. Solution if Jin-ho can get a peek at the original house that the exec fell in love with, he can design something inspired by the style, and win the contract. Ten guesses as to who the original architect is. Kae-in broods in the dark, trying to convince herself that everything will work out. She may be on the dimmer side of Tuesday, but at least that keeps her positive and plucky rather than downtrodden. To make matters worse, she gets a call from her father, informing her that he will be returning to Korea three months sooner than expected. Not only does this shorten her timeframe to save the house, but it seems to make her visibly uncomfortable on a personal level. One gets the impression from the very short conversation that Kae-in lives for Daddy’s approval but has yet to ever reach his impossible standards. She speaks very timidly and very formally to him, implying an emotional distance beyond the normal gruff disapproving father/underachieving daughter relationship. In a sad little moment, Kae-in rushes over to In-hee’s empty room, forgetting for a moment the events of the day. Luckily, she does have one actual friend in the world, and Young-sun comes right over to be there for Kae-in. While unable to offer up any of her own money, Young-sun encourages her to eat up for her strength. Sometimes I’m concerned that Kae-in is well, slow, but she’s not stupid so much as child-like, so maybe we can accept her as overly trusting, to the point of being the gullible patsy if people choose to take advantage of her. That seems to be the way that Young-sun sees her, so I’ll groove with that for a while until it starts defying all rational thought. When that happens, we will have words, Show. We also find out from Young-sun that Kae-in lost her mother at a very young age, and her father loved his wife so much that he couldn’t face her death or the daughter she left behind. Okay, I’ve never really been good with this trope, because if you really had SO much capacity for love for another human being, how could you not have room in your heart for your own child who was born out of that love? Whatever, countless Kdramas over the past half century! Back at the office, Jin-ho studies the few published pictures of the house, and Sang-jun arrives with his own backstory on the architect. The architect built the house for his wife whom he adored, and since her death he lives and teaches abroad, and his only daughter lives in the original house. Sang-jun thinks this’ll be a breeze, what with Jin-ho’s good looks and charm just seduce your way into the house! He adds that since the mother was a legendary beauty, the daughter will naturally be a looker too. Jin-ho decides he’ll go the route of research, while Sang-jun should feel free to follow up on the daughter. At home, Kae-in takes a moment to remember her mother as well, telling her that she wants her father to be proud, and is so afraid of disappointing him. She plays with a miniature replica of her mother’s rocking chair, where she used to rock little Kae-in to sleep in her arms. Scenes like this are why Sohn Ye-jin is perfect for this role. She can handle the drama and believable character pathos, beyond the cute and funny stuff. We come back around to Kae-in in the morning, where she is speaking in a mysterious hushed tone to someone on the phone. So faced with insurmountable obstacles and debilitating self-doubt, who do you call? A phone-psychic! Ha. Bleary-eyed and dark saucers from talking all night, she asks the psychic for answers. The pc-bang-based quack blathers some obscurities about a savior who will come from the east. She asks, “Is it a man?” Psychic “Not exactly a man.” Kae-in “Then a woman?” Psychic “Not exactly a woman.” Heh, wonder who that’ll be. Nice touch, to add her superstitious disposition into the mix. She asks just now! how much the call costs, and at $ per 30 seconds, she’s been completely had. She hangs up, just when Sang-jun comes knocking on her door, flowers in hand, ready to woo his way into the famed house. Kae-in comes out looking like an alien-ghost, and crazily enough, the two recognize each other immediately. Sang-jun has two shocks one at the sheer sight of her, then another when he realizes that she’s the wedding crasher from yesterday, the same furniture designer who clashed with Jin-ho over the form and function of dining tables. Kae-in hides in mortification, but pops back out to ask if he came from the east. No, he did not, which rules him out as the foretold man/woman who will help her. Sang-jun runs off, thinking that she’s gone batty, with good reason, and that the house is a lost cause. As if the last forty-eight hours haven’t been bad enough, Kae-in gets a call from the department store where she sells her furniture. She goes in to meet with the sales manager, and he tells her that they can no longer lease her the space due to low sales. She pleads, but the answer is no. The whole time, I can’t focus because I’m thinking, why is the manager a caricature-version of BOFs Gu Jun-pyo, with rolls of curly hair and an over-the-top ascot-laced suit? And then he gets up, and we see that his nametag reads GU JUN-PYO. Ha. Jin-ho decides to cash in on his promised meeting with Choi Do-bin at the art center, but runs into him on his way out to lunch with Chang-ryul’s dad. The two exchange passive-aggressive pleasantries, and Jin-ho says he’ll come back another time. What we have gathered about Chang-ryul’s father he was once the right-hand man at the architecture firm that Jin-ho’s dad started, he took over the firm after Jin-ho’s father died, even kicking Jin-ho and his mother out of their family home. Also, we know that he is eeevil, by the scar on his eye and other such unsubtle clues. Sung-jun sees them pass each other, and asks Jin-ho if maybe Chang-ryul’s dad is making another backdoor deal with the museum contract, just like he did with the Dream Art Center. He asks Jin-ho not to fight to the death on this one, just for personal revenge, considering this will be a make-or-break contract for their small firm. But Jin-ho is fired up, whether for his career or for his vendetta, and plans to see it through. Looks like Chang-ryul’s father feels equally on edge with the competition, giving Chang-ryul an evil-version of a pep talk, involving a kick in the shins, belittling, berating, and a threat to exile him to China if he loses the contract to Jin-ho. Should be a good fight, since Chang-ryul is now equally motivated to do well, even if for bad reasons. Kae-in and Young-sun are on their way back from the department store in a truck loaded with all of Kae-in’s unsold furniture, when they see Won-ho lurking around in front of her house. It just so happens that Jin-ho is also doing some lurking of his own, trying to take some pictures of the house, to little avail since not much is striking or visible from the outside. Won-ho sees her coming and bolts. Kae-in gives chase. Jin-ho follows. That may seem weird, but then, have you ever just started running because someone is chasing you, even if you have no reason to? Maybe it’s a reflex. Halfway through the chase Kae-in twists her ankle on her high-heels does she have to be both dim AND clumsy, Show?, and asks Jin-ho to catch the guy for her. He obliges and manages to corner Won-ho, as Kae-in catches up. Won-ho admits to spending all of the money, and has no explanation or platitudes to give her. Kae-in starts off yelling, then pleading, but by the end, she feels more sorry for Won-ho, asking if he’s been eating. They relocate to a neighborhood restaurant, where Kae-in BUYS the weasel lunch, and Jin-ho listens in on the conversation. Kae-in tells Won-ho that her dad is returning sooner than expected, and that she needs the money fast. Kae-in “It must be pretty dire, if I listed the spare bedroom up for rent at the realtor’s office today.” At this, Jin-ho’s wheels start turning. Won-ho finishes his meal, then says he’s going to the bathroom, and sneaks off. Kae-in, the girl who would believe the sun will rise in the south if you told her convincingly enough, lets him go, and is then surprised to find that he’s run off. Jin-ho “Are you an idiot?” Heh, well, points for directness. He notices that her ankle is pretty bad, so despite her protests about hospital fees, he takes her to the hospital and even pays for the visit. Kae-in is definitely wary of his motivations for being so kind, while Jin-ho tries to teach her to just say thank you and be gracious. He tells her that instead of paying him back, she could let him see the house. Jin-ho says he’s looking for a new place and happened to overhear her conversation with Won-ho. Kae-in goes from suspicious to incredulous. A man! And a woman! Living under one roof! We can’t have that. She refuses to let him even see the place. They’ve reached her door and Jin-ho keeps trying to convince her, to no avail. But Young-sun answers the door and as soon as she sees him, without even knowing the situation, she tells him to wait outside and whatever it is, she’ll persuade Kae-in to change her mind. Can’t say I’d do any differently if he were standing on my doorstep. Inside, Kae-in fills her in on Jin-ho’s offer to be her roommate, and Young-sun can’t imagine why she’d turn down this perfect opportunity. She needs money and a roommate; he has money and needs a room. Besides, Young-sun reminds her HE’S GAY, remember? To him, you might as well be an inanimate object. Kae-in wonders if that’s really how it works, and starts to warm up to idea, as the two girls imagine Jin-ho as the picture-perfect gay roommate, cooking elaborate meals, being the best shopping companion, and even doing facials together. This persuades Kae-in to give it a chance, so Young-sun lets him in to take a look at the house. Kae-in is still very apprehensive about him, and he’s not exactly a fan of hers either, so the two are edgy and cold to each other. But Jin-ho is struck by the house. Frankly, so am I because I dig the indoor/outdoor and modern/traditional fusion going on in that house. Back at the office, Jin-ho tells Sang-jun that he’ll be living with Kae-in from now on. Sang-jun can’t believe he managed it, and wonders if Kae-in has lusty feelings for Jin-ho, since she wouldn’t as a single woman let just any man into her home. Sang-jun tells Jin-ho that if the situation should arise, he should just take one for the team and go for it. Jin-ho assures him that won’t be happening. Oh, you don’t even know the half of it. Meanwhile, the girls discuss the deliciousness of Jin-ho’s butt, as Young-sun can’t get enough of this hottie that she can never have. Kae-in does agree that he has a derriere to write home about, having grabbed a handful in the previous episode. The four of them meet at the house to sign the lease, and basically Sang-jun and Young-sun facilitate the whole deal, while Jin-ho and Kae-in remain cold and hostile towards each other. Once the seals are stamped, Jin-ho’s true colors come out, as he insists Kae-in adhere to some cleanliness rules. Kae-in, not to be outdone, says fine, then he has to abide by her spatial rules—not being in restricted areas—or else any body parts in unsanctioned areas will be lopped off. Young-sun and Sang-jun hold them back from what would have devolved into fisticuffs, and they manage to seal the deal. Sang-jun dotes on Jin-ho as a younger brother, but his gestures, like putting his hand on Jin-ho’s knee, help to solidify the girls’ belief that they are a couple. The boys don’t notice, and go about setting up Jin-ho’s room. And then to really solidify the misconception that they are gay, Jin-ho cuts his leg on a piece of furniture, and here are the things the girls hear from outside the room, complete with R-rated sound effects Sang-jun “Take your pants off…Don’t worry, I’ll be gentle…Okay, I’m going in…” I know this is beside the point, but there’s no way that Sang-jun would be the top in that relationship. Just sayin’. Young-sun just thinks their relationship is adorable, but Kae-in fills her in on Jin-ho’s motel tryst with his OTHER boyfriend, Tae-hoon, a beast of a guy who he mistreats terribly, and that’s only the guys they know about, so god knows how many men he’s actually dating. Kae-in thinks she’s just going to have to set some ground rules, while Young-sun wonders when she’ll get to see the beastly one. Over at Casa de Backstab, In-hee returns from the honeymoon to her new place, only Chang-ryul’s been living there since their not-a-wedding because his father kicked him out. They bicker and yell, and at one point they’re stripping off their pajamas while yelling, and I thought for sure it would lead to a bow-chicka-bow-wow place, but apparently their hatred runs too deep. Honestly, you guys kind of deserve each other, so I wouldn’t mind. Now whether you deserve to be happy is a whole other question. Jin-ho takes a tour of the house, and ends up in Daddy’s office, where he sneaks a peek at some blueprints. Then, while Jin-ho fields a call from his mom, Kae-in creeps up to the room in shadow, and scares the bejesus out of him and me. She revs up the chainsaw HA that she has in her hands, serving as a reminder that all body parts in violation of the rules will be chopped off. Jin-ho screams like a little girl and runs for his life, while I die of laughter and watch the scene again. And then, the craziest thing happens. In-hee shows up at Kae-in’s house, suitcase in tow, expecting to get her old room back. Hh? Wh? She actually says that since Kae-in ruined her wedding, she didn’t really end up with her boyfriend, so the past is in the past. The past? As in YESTERDAY? Is it possible you were raised by howler monkeys? Kae-in can’t believe she’s dared to come here, and thank god that she isn’t folding in this situation because I would have to disown her. The argument goes from icy to shouting to full-on girly hair-pulling, which gets Jin-ho out of his room to complain about the noise, since he can hear everything. In-hee can’t believe Kae-in rented the room so quickly, and to a man, and proceeds to tell Kae-in how she should live her life! And I am totally going to reach into my tv and pull the lips right off this girl! Kae-in counters that In-hee must be interested in her new roommate because she wants to steal another guy from her, and In-hee just says matter-of-factly that she could get any guy to say yes to her. Well, is that a thing to be proud of? But Kae-in, confident this time that she can shut In-hee up, announces that she can try a thousand years to seduce Jin-ho. It won’t work…because HE’S GAY. So far, having not read the novel, and staying away from any and all spoilers, the ride is mostly predictable, with the only twist being the presumption of homosexuality. But we’re only two in, so I’m hoping there are more comic surprises and new twists in story conventions to be had, as I do enjoy the characters mostly the main four. I’m relying on the developing relationship between the leads to be fresh and full of new problems, which I think it can deliver on. Even if this drama were lazy and rehashed Coffee Prince-esque angst, it has to diverge at some point because its premise approaches the gay question from a different angle, so hopefully they’ll be mining new territory, instead of side-stepping the issue. RELATED POSTS Personal Taste Episode 1 Cinderella, Prosecutor, Taste First episode impressions Prayer ceremony for Personal Taste Personal Taste the novel Part 3 Personal Taste the novel Part 2 Personal Taste preview clip Personal Taste the novel Part 1 Upcoming rival dramas hold first rehearsals Kae In masuk ke dalam gedung resepsi perkawinan dan kaget begitu melihat sahabatnya sendiri akan menikah dengan Chang Ryul yang baru memutuskan hubungannya kemarin. In Hee meminta maaf ke Kae In tapi mukanya tetep ga merasa bersalah. Lalu Kae In nanya sejak kapan mereka berhubungan? In Hee bilang kalau hal itu ga penting dan yang penting itu sekarang dia dan Chang Ryul akan menikah. Chang Ryul bilang bahwa dia akan bersedia dihukum atas masalah ini asal Kae In mau pergi keluar dan tidak mengganggu acara mereka. In Hee sempat marah ke Chang Ryul karna Chang Ryul bilang bersedia di hukum. Young Sun mulai emosi dan marah-marah ke In Hee. Chang Ryul pun buru-buru memanggil sekertaris Kim dan keamanan untuk membawa Kae In dan Young Sun keluar. Sementara itu Jin Ho dan Sang Joon melihat hal itu dari kursi Ryul melihat ke arah ayahnya dan meminta maaf lalu dia meminta pembawa acara agar melanjutkan acara pernikahan itu. Sementara itu Kae In dan Young Sun di bawa ke ruang keamanan. Anaknya Young Sun iseng mainin speaker sehingga suara Kae In yang bercerita kalau dia kaget melihat mantan pacarnya akan menikah dengan sahabat yang telah berteman dengannya selama 10 tahun tetapi dia akan mengucapkan selamat bagi kedua mempelai, terdengar ke setiap ruangan di Hotel tersebut. Gara-gara omongan Kae In tersebut, ada pasangan yang mau menikah pun mulai berantem. Ayahnya Chang Ryul mulai kesal dan meninggalkan resepsi pernikahan anaknya itu. Sementara itu juri yang kemarin memilih Chang Ryul menang dalam tender pun mulai meninggalkan Acara Ho melihat si itu meninggalkan acara resepsi sehingga dia mengikuti dari arah belakang. Dan dia melihat kalau orang-orang suruhannya Chang Ryul sedang berbicara dengan dan itu membuat dia curiga kalau Chang Ryul memenangkan persentasi kemarin karna bermain licik dengan tersebut. Akhirnya dia berlari ke bawah dengan menggunakan tangga menuju basement sementara itu Sang Joon diminta untuk mencari tau nomor polisi mobil security datang ke ruang keamanan dan bilang kalau suara Kae In tadi terdengar ke setiap ruangan dan membuat para calon mempelai marah-marah dan menuju ke ruangan itu. Young Sun buru-buru menarik anaknya dan juga Kae In untuk pergi dari situ. Tapi sayangnya sudah banyak orang yang berkumpul di depan ruang keamanan dan dia pun meminta maaf kepada orang-orang. Ketika mau pergi, In Hee dan Chang Ryul ada di situ juga. In Hee bertanya ke Kae In apakah sekarang dia sudah senang karna membuat dia hampir gagal menikah? Kae In meminta maaf dan bilang seharusnya In Hee bilang terlebih dahulu ke dia maka dia pun tidak akan marah. In Hee malah nyolot dan membuat Young Sun kesal dan menamparnya lalu pergi meninggalkan tempat Ho berlari-lari menuruni tangga darurat menuju basement dan masuk ke mobilnya setelah mendapatkan telfon dari Sang Joon. Sementara itu sedang berada di lift menuju ke basement juga. Jin Ho mulai mengendarai mobilnya sambil terus mencari nomor plat mobil tersebut, dan akhirnya setelah ketemu terdengar bunyi In, Young Sun dan juga anaknya Young Sun pergi dari acara tersebut. Young Sun terus mengomel dengan bilang kalau In Hee itu sahabat yang ga tau malu karna sudah merebut pacarnya Kae In. Kae In bilang ke Young Sun bahwa dia akan pergi sendiri berusaha menenangkan diri. Young Sun bertanya apakah kamu baik-baik saja? Kae In bilang bahwa tentu dia tidak baik-baik saja, lalu dia pergi. Young Sun juga ikut pergi dari situ bersama anaknya namun ke arah yang Ho berdiri di sebelah mobilnya tersebut sambil membenarkan sesuatu, ketika itu datang dia bertanya apa yang dilakukan oleh Jin Ho kepada mobilnya? Jin Ho meminta maaf dan bilang tadi dia buru-buru mau keluar dan ga sengaja menabrak spion mobil sampai patah. tersebut ga mempermasalahkan hal itu dan bersiap pergi. Tapi tiba-tiba bilang ke Jin Ho kalau persentasi Jin Ho waktu itu cukup bagus dan itu pun memberikan kartu namanya kepada Jin Ho dan bilang kalau masalah hari ini hanya masalah Hee keluar dari gedung tempat resepsinya berlangsung sambil diikuti oleh Chang Ryul dan juga sekertaris Kim. In Hee marah-marah dan berniat pergi dengan mobil pengantinnya tapi sebelum itu dia meminta tiket bulan madunya ke Chang Ryul. Chang Ryul pikir kalau In Hee akan pergi ke tempat bulan madunya itu berdua dengannya tetapi ternyata In Hee pergi dengan mobil itu sendirian tanpa mempedulikan Chang Kim bilang ke Chang Ryul kalau Chang Ryul beruntung tidak di tampar eeeeh tiba-tiba ayahnya Chang Ryul datang dan menampar Chang Ryul dan bilang Chang Ryul ga usah memanggil dia ayah lagi karna dia sudah membuat malu ayahnya itu. Sekertaris Kim kembali berkomentar dengan bilang kalau Chang Ryul sangat menyedihkan karna ditinggalkan oleh calom pengantinnya dan dianggap bukan anak oleh ayahnya. Chang Ryul kesal dan memarahi sekertaris Kim yang dianggap memperbolehkan Kae In masuk ke dalam gedung resepsi In berdiri di zebra cross sambil mengingat lagi ketika tadi dia melihat Chang Ryul dan In Hee di altar. Dia berjalan menyebrang dengan sangat pelan sehingga ketika lampu mulai berubah menjadi merah, banyak mobil yang klakson ke arah Kae In. Jin Ho dan juga Sang Joon yang menggunakan mobil melihat In Hee namun tidak begitu mempedulikan dan memilih terus menjalankan sampai di kantornya, Sang Joon bilang ke Jin Ho kalo mereka memiliki kesempatan bagus untuk proyek yang akan datang. Tiba-tiba Tae Hoon muncul dan Sang Joon bertanya, kenapa Tae Hoon masih ada di kantor? Padahal kan dia sudah di pecat. Tae Hoon meminta maaf dan bilang, masa hanya karna dia kalah minum makanya di pecat? Jin Ho lalu bilang ke Sang Joon untuk segera membuang mejanya Tae Hoon yang langsung di cegah oleh Tae Hoon. I really looooove Lee Min HoJin Ho dan juga Sang Joon masuk ke ruangannya Jin Ho dan mengunci pintu. Tae Hoon terus berteriak dari arah kaca jendela dan bilang kalau dia memiliki rencana rahasia yang pasti membuat mereka bisa di terima di proyek galeri nanti. Jin Ho dan Sang Joon otomatis langsung kaget ketika Tae Hoon bilang tentang sebuah rumah yang di panggil Sang Go itu di rumah yang memiliki nama Sang Go Jae itu didatangi oleh 3 orang preman yang terus memukul-mukul pintu. Sedangkan dari arah jauh terlihat Won Hoo yang bersembunyi dari arah jauh sambil terus melihat ke arah 3 preman yang memukul-mukul rumah Sang Go Jae yang merupakan rumahnya Kae In. Won Hoo mencoba menelfon Kae In namun telfon itu tidak diangkat oleh Kae In yang berjalan lesu ke arah rumahnya Ho pun meninggalkan pesan dan bilang dia meminta maaf karna telah meminjam uang sebesar dollar dan menggadaikan rumahnya Kae In. ternyata ada seorang preman yang melihat Won Ho dan langsung mengejarnya. Salah seorang preman yang lainnya meninggalkan surat di rumah Kae 3 preman itu mengejar Won Ho, KaeIn datang dan masuk ke rumahnya. Dia kaget melihat ada 2 surat di depan pintu masuknya. Surat yang pertama adalah surat undangan perkawinan Chang Ryul dan juga In Hee sedangkan surat yang ke 2 adalah surat penagihan hutang yang membuat Kae In sangat kantornya Jin Ho mereka membahas tentang rencana rahasia yang di sampaikan oleh Tae Hoon. Tae Hoon bilang ke Sang Joon dan juga Jin Ho kalau pemilik gallery tersebut sangat menyukai gaya rumah Sang Go Jae. Si pemilik gallery sudah meminta arsitek yang membuat Sang GoJae untuk membangun gallery-nya namun permintaan itu di tolak. Jadi kemungkinan besar kalau Jin Ho bisa membuat design yang mirip dengan rumah Sang Go Jae maka dia akan memenangkan proyek gallery. Nah sebelum mengetahui design rumah Sang Go Jae, Jin Ho meminta Sang Joon untuk mencari tahu siapa di rumah Kae In, Kae In sedang duduk di kamarnya sambil merenung. Tiba-tiba ada telfon, awalnya dia sangka itu telfon dari Won Hoo tapi ternyata itu telfon dari ayahnya. Ayahnya bertanya apakah ada sesuatu hal yang terjadi sama Kae In? Kae In menjawab ga ada apa-apa. Lalu ayahnya bilang kalau dia akan datang ke Korea bulan Mei. Kae In kaget karna seharusnya ayahnya itu datang bulan Agustus. Kae In pun melihat ke tabungannya namun uang tabungannya itu tidak cukup unttuk membayar hutang. Lalu dia pergi ke kamar yang dulu di sewakan ke In Hee untuk meminta uang bulanan namun ternyata In Hee sudah tidak ada. Young Sun menelfon dan Kae In pun meminta Young Sun Sun datang dan melihat Kae In bersedih. Dia menghampiri Kae In dan bilang ga usah sedih eeeh ternyata Kae In bukannya lagi nangis tapi lagi makan. Kae In memeluk Young Sun dan bilang untung saja ada Young Sun yang sebagai sahabat setianya, lalu Kae In meminta uang kepada Young Sun tetapi Young Sun sedang tidak punya uang. Young Sun bilang ke Kae In untuk jujur yang sebenarnya saja ke ayahnya Kae In namun Kae In bilang hal itu tidak mungkin karna dia tidak begitu dekat dengan ayahnya. Young Sun mengatakan sesuatu tentang ayahnya Kae In yang membuat Kae In langsung kesal dan Young Sun pun cepat-cepat meminta Ho dan Sang Joon masih berada di kantor membahas tentang rumah Sang Go Jae. Jin Ho melihat-lihat foto di sebuah buku yang menampilkan rumah Sang Go Jae tersebut sementara Sang Joon menjelaskan tentang tuan Park yang merupakan arsitek rumah Sang Go Jae tersebut. Sang Joon menceritakan bahwa istrinya tuang Park sudah meninggal dan itu membuat tuan Park pergi ke luar negri untuk mengajar sementara itu anak perempuannya menempati rumah Sang Go Jae Sang Joon mendapatkan ide dan bilang ke Jin Ho agar Jin Ho menggunakan fisiknya yang cakep dan juga tampan untuk menarik perhatian anak perempuan tuan Park sehingga Jin Ho bisa masuk ke rumah Sang Go Jae dan melihat design rumah itu. Jin Ho bilang kalau rencana itu terlalu menghayal dan bilang agar Sang Joon saja yang merencanakan rencana rumahnya Kae In, Kae In memainkan kursi goyang kecil dan mengingat ketika dia digendong oleh ibunya di atas kursi goyang. Lalu dia menangis dan bilang kalau selama ini dia mencoba membuat ayahnya bangga padanya namun pada akhirnya dia gagal membuat ayahnya In mencoba menelfon peramal dan menanyakan tentang nasibnya. Peramal palsu bilang kalau akan ada seseorang yang datang dr arah timur dan membuat peruntungan untuk Kae In. Kae In bertanya laki-laki atau perempuan? Si peramal itu bilang kalau yang datang bukan laki-laki. Kae In senang karna berarti itu artinya bukan ayahnya yang akan datang. Lalu Kae In bertanya apakah wanita? Si peramal lagi-lagi bilang bukan. Kae In bingung dan bilang kalau akhir-akhir ini nasib dia sedang jelek. Lalu si peramak bilang kalau 50 detik pertama nelfon itu geratis, Kae In udah tenang namun si peramal bilang lagi kalau 30 detik kemudian harus bayar 1,5 dollar dan Kae In buru-buru mematikan telfon itu. Tiba-tiba ada suara bel dan Kae In buru-buru membuka pintu dibuka, Kae In kaget melihat Sang Joon berdiri di depan rumahnya sambil membawa bunga. Sang Joon juga kaget dan bilang apakah Kae In wanita yang ada di pernikahan Chang Ryul? Kae In buru-buru bilang bukan dan menutup pintu. Lalu tidak lama kemudian Kae In membuka pintu dak bertanya apakah Sang Joon berasal dari timur? Sang Joon bilang kalo kantornya bukan dari timur tetapi dari selatan. Kae In pun kembali menutup pintu rumahnya. Sang Joon lalu berfikir jangan-jangan anak tuan Park itu adalah Kae In, makanya dia cepat-cepat menelfon Jin Ho. Kae In mendapatkan telfon dr orang yang di pameran membeli produk meja dia dan Kae In pun cepat-cepat pergi bertemu dengan orang kabar buruk menimpa Kae In kembali. Si orang itu ternyata ga jadi beli mejanya Kae In karna menurut bos orang itu, meja buatan Kae In tidak akan laku di jual kepada orang-orang. OH GOD, lo harus liat deh nih muka si laki-laki yang bicara sama Kae In ini, rambutnya Goo Jun Pyo abis dan di papan namanya tertulis GOO JUN PYO ahahahaha gw ga bisa berhenti ketawa deh kalo ngebandingin muka orang itu sama Lee Min Ho pas jadi Goo Jun Pyo hahahaJin Ho datang ke sebuah gallery untuk membicarakan tentang bisnis dan ternyata dia bertemu dengan yang sedang mengobrol dengan ayahnya Chang Ryul. Ayahnya Chang Ryul kenal dengan Jin Ho dan mengatakan kepada kalau dia dan ayah Jin Ho adalah teman yang sangat akrab. Ayahnya Chang Ryul berniat mengajak Jin Ho makan bersama namun Jin Ho menolaknya. kemudian bilang kalau dia yakin Jin Ho akan berhasil dalam proyek gallery tersebut. Sementara itu ayahnya Chang Ryul sempat mengatakan sesuatu yang membuat Jin Ho kembali ke ingatan masa kecilnya ketika dia dan ibunya di usir dari rumahnya sementara itu ayah Chang Ryul dan Chang Ryul yang menempati rumah Ho kembali tersadar dari lamunanya karena Sang Joon datang menghampiri. Lalu Jin Ho bertanya bagaimana rencana Sang Joon mengenai anaknya tuan Park. Lalu Sang Joon pun bercerita kalau anaknya tuan park itu adalah perempuan yang ada di pernikahannya Chang Ryul dan juga perempuan yang pernah dibilang egois sama Jin Ho. Sang Joon bilang ke Jin Ho agar mereka menyerah proyek gallery saja namun Jin Ho mengatakan kepada Sang Joon agar dia yang berusaha agar bisa mendapatkan design rumah Sang Go rumahnya Chang Ryul, Chang Ryul sibuk mengangkat telfon dan berbicara dengan ibunya. Tiba-tiba HP yang satu lagi berbunyi dan sekertaris Kim bilang kalau ada telfon dari ibu Chang Ryul yang satu lagi. Chang Ryul pun cepat-cepat mengangkat telfon yang satu lagi. Sekertaris Kim diam-diam bilang, bagaimana mungkin Chang Ryul bisa punya 7 orang ibu? 7 IBU? WHAT? ckckckck lalu HP yang satu lagi bunyi dan ternyata itu telfon dari ayahnya Chang Ryul di panggil ke kantor dan langsung di marahi oleh ayahnya. Ayahnay itu bilang kalau Jin Ho sepertinya tertarik sama proyek gallery dan dia tidak mungkin melakukan hal licik seperti pada proyek sebelumnya. Chang Ryul bilang kalau dia akan berusaha mendapatkan proyek gallery dan mengenai In Hee… belum ngomong tentang In Hee namun ayahnya Chang Ryul sudah marah dan bilang ke Chang Ryul kalau Chang Ryul harus memenangkan proyek ini kalau tidak dia akan memindahkan Chang Ryul ke cabang di dari ruangan ayahnya, Chang Ryul merasa kakinya sakit karna tadi di tending oleh ayahnya. Lalu dia menyuruh sekertaris Kim untuk mencari informasi latar belakang tentang Jin Ho. Sekertaris Kim tidak mengeluarkan catatan untuk mencatat dan itu membuat Chang Ryul bilang “apakah otak sekertaris Kim sungguh pintar sampai-sampai tidak perlu mencatat?” Ko gw suka sama si Chang Ryul ya? Haha ganteng sih.Jin Ho berdiri di depan rumah Kae In dan menelan bel namun tidak ada orang yang membuka pintu pintu tidak di buka karna Kae In dan Young Sun ada di truk yang membawa kembali meja yang di kembalikan. Young Sun memberikan ide untuk menyewakan kamar In Hee saja. Namun Kae In bilang hal itu tidak mungkin di lakukan karna ayahnya melarang orang asing masuk ke dalam rumah. Namun tidak ada cara lain lagi untuk mendapatkan uang sehingga Kae In pun Hoo diam-diam memperhatikan rumah Kae In dari jauh dan melihat Jin Ho yang sedang memotret rumah Kae In. dari dalam truk, Young Sun melihat Won Ho dan berteriak agar truk berhenti. Kae In pun mengejar Won Ho, Jin Ho yang melihat Kae In pun ikut-ikutan mengejar Won Ho. Kae In terjatuh dan meminta tolong Jin Ho untuk mengejar Won Ho. Akhirnya Won Ho tidak bisa kabur lagi dan Kae In pun marah-marah ke Won Ho. Kae In baru sadar ada Jin Ho dan bertanya ada apa Jin Ho situ? Jin Ho bilang ke Kae In kalau Kae In harus bilang makasih ke dia karna dia lah yang sudah menangkap Won Ho. Lalu terdengar suara perut Won Ho yang membuat Kae In kasian dan meneraktir Won Ho In bertanya ke Won Ho apakah uang yang di pinjam oleh Won Ho benar-benar sudah habis? Won Ho bilang iya. Kae In kesal dan bilang kalau karna ulah Won Ho maka dia terpaksa menyewakan kamar In Hee. Jin Ho mendengar hal itu dan langsung berfikir untuk menyewa kamar itu. Won Hoo lalu bilang mau ke toilet, Kae In percaya begitu saja lalu Jin Ho bilang “kau ini bodoh atau apa sih? Lihat temanmu itu bukan ke toilet, tapi kabur!” Kae In bilang kalau dia percaya sama Won Ho dan Won Ho ga mungkin kabur tapi pada nyatanya Won Ho benar-benar Ho melihat Kae In yang dari tadi menyeret kakinya dan langsung membawa Kae In ke ruamh sakit. Kae In mulai curiga sama Jin Ho yang bertingkah baik pada dirinya. Di dalam mobil, Jin Ho bilang kalau Kae In harus mengajak dia melihat-lihat rumah Song Go Jae. Kae In kaget karna Jin Ho mengetahui nama rumahnya itu dan bertanya dari mana Jin Ho tau nama rumahnya? Jin Ho bilang kalau dia tahu dari papan nama di depan rumah Kae In. Lalu Kae In bertanya kenapa Jin Ho mau melihat rumahnya? Jin Ho pun bilang kalau dia sedang mencari rumah kost. Kae In tambah kaget dan bertanya dari mana Jin Ho tau tentang kamar yang dia sewakan? Jin Ho lagi-lagi menjelaskan kalau tadi dia denger omongan Kae In yang bilang menyewakan kamar ketika sedang mengobrol dengan Won sampai di depan rumah Kae In, Kae In mengucapkan terima kasih dan bilang ke Jin Ho kalau nanti dia akan membayar biaya rumah sakit kepada Jin Ho. Jin Ho membujuk Kae In agar dia bisa menyewa kamar di rumah Kae In namun Kae In bilang kalau rumahnya itu tertutup buat orang asing dan dia pun segera turun dari mobil. Jin Ho menyusul turun dan terus di depan pintu masuk, Kae In melihat ada selembaran yang di temple di depan pintu dan dia langsung melepaskan selembaran itu. Jin Ho membaca selembaran itu dan langsung bertanya apakah rumah itu di gadaikan oleh Kae In? Kae In merebut kertas itu dan mengusir Jin Ho Ho tidak pergi juga justru dia terus bilang kepada Kae In kalau misalnya dia tinggal di situ maka dia akan membayar dan rumah Kae In itu pun dapat terbebas dari pengadaian. Kae In tetap menolak dan bilang kalau seorang perempuan tidak mungkin tinggal serumah dengan laki-laki yang dia tidak kenal. Dalam hati Jin Ho bilang “perempuan? Apakah yang dia maksud itu dia? Hah?” lalu Young Sun datang membuka pintu dan kaget melihat laki-laki yang waktu itu di dalam lift ada di depannya sekarang. Kae In mengusir Jin Ho dan mengajak Young Sun masuk ke Sun nongol di balik pintu masuk dan bilang ke Jin Ho kalau dia akan berusaha membuat Kae In memperbolehkan Jin Ho menyewa kamar di rumah itu. Lalu Young Sun bilang ke Kae In kalau Jin Ho itu bisa menolong Kae In mendapatkan uang. Kae In tetap menolak karna dia tidak mau tinggal satu rumah dengan laki-laki. Young Sun lalu bilang kalau Jin Ho itu kan gay jadi ga akan ganggu Kae In. malah Jin Ho bisa di jadikan teman gay yang seru. Kae In pun mulai menghayal Jin Ho masak buat dia, nemenin ke mall, dan juga pake masker. Dan beberapa menit kemudian Young Sun nongol kembali di pintu dan mengajak Jin Ho untuk melihat-lihat Ho kembali ke kantor dan bilang ke Sang Joon kalau dia akan pindah rumah. Sang Joon Tanya pindah ke mana? Jin Ho pun bilang kalau dia akan pindah ke Sang Go Jae. Sang Joon kaget tapi dia seneng karna itu akhirnya Jin Ho bisa masuk ke Sang Go Jae dan mendapatkan inspirasi ide design agar mereka memenangkan proyek In dan juga Young Sun lagi di ruang perabotan. Young Sun bilang kalau Jin Ho itu ganteng dan bisa di manfaatin. Kae In tetap bilang kalau Jin Ho itu sangat menyebaklan namun lagi-lagi Young Sun bilang agar Memaafkan Jin Ho Sang Joon menemani Jin Ho ke Sang Go Jae. Sebelum masuk ke dalam rumah, Sang Joon bilang ke Jin Ho kalau kemungkinan besar Kae In tertarik sama Jin Ho makanya menerima Jin Ho. Lalu Sang Joon bilang agar Jin Ho waspada selalu sama Kae In. Jin Ho malas mendengarkan omongan Sang Joon yang anehaneh sehingga cepat-cepat dia masuk ke dalam pun ber-empat Jin Ho, Kae In, Sang Joon dan juga Young Sun berkumpul di ruang tengah untuk menandatangani surat kontrak. Tiba-tiba Young Sun bilang kalau Sang Joon dan juga Jin Ho pasti sudah saling pengertian dan begonya si Sang Joon malah bilang tentu saja mereka sangat pengertian karna sudah sangat lama bersama. Lalu Kae In bilang kalau Jin Ho harus memetuhi aturan tidak boleh memotret rumah sembarangan karna ayahnya tidak suka hal itu. Eeeh Jin Ho juga bilang dia ada syarat untuk Kae In yaitu ga boleh jorok. Kae In kesal dan bilang ke Jin Ho kalo misalnya Jin Ho tidak mematuhi persyaratan maka dia akan memotong setiap bagian tubuh Jin Ho. Terjadi perang dingin antara pereka berdua dan Young Sun dan juga Sang Joon langsung mengamankan hal Ho dan Sang Joon mulai beres beres di dalam kamar. Kakinya Jin Ho ga sengaja kena pake dan Sang Joon menyuruh Jin Ho membuka celananya agar bisa di obati. Diam-diam Young Sun mendengar hal itu dan jadi kaget sendiri. Kae In juga mendengar hal itu dan langsung enek sendiri sama Jin Ho dan semakin yakin kalo 2 orang itu adalah pasangan Sun bilang ke Kae In kalo dia jadi ingin ikutan pindah ke Sang Go Jae agar bisa melihat wajah gantengnya Jin Ho. Tapi Kae In bilang kalau Jin Ho itu kejam karna kemarin malam dia pernah bertemu dengan Jin Ho yang meninggalkan teman homonya sendirian di hotel. Tiba-tiba pintu kamar Jin Ho terbuka dan Sang Joon pamit pulang. Young Sun berjalan mendekati Jin Ho dan bertanya “dimana laki-laki yang lainnya?” Jin Ho ga ngerti hal itu dan pas Kae In mau menjelaskan hal itu, Young Sun cepat menutup mulut Kae In dan bilang ke Jin Ho agar menganggap rumah itu adaah Ryul melihat-lihat kembali foto-foto praweddingnya. Tiba-tiba In Hee datang ke rumah itu dan tidur di samping Chang Ryul. Mereka berdua sama-sama kaget dan terbangun. In Hee mengusir Chang Ryul tapi Chang Ryul bilang kalau rumah itu adalah hadiah dari ayahnya. Lalu mereka berdua pun mulai Ho sedang berjalan-jalan mengitari rumah Sang Go Jae itu. Dia berkali-kali dapet telfon dari Hye Mi tapi ga diangkat oleh dia. Jin Ho menemukan seebuah ruangan dan melihat ada denah rumah Sang Go Jae. Ada telfon dari ibunya dan dia pun bilang kalau dia ga bisa angkat telfon sekarang dan akan menelfon nanti. Tiba-tiba ada suara aneh dan dia pua kaget ketika melihat ada Kae In di sampingnya. Jin Ho bilang kalau dianyasar dan salah masuk ruangan. Kae In bilang kalau Jin Ho melanggar peraturan dan Kae In pun menyalakan bor-nya membuat Jin Ho takut dan langsung lari ke In berjalan ke pintu depan dan kaget ketika melihat In Hee datang dan bilang kalau dia lelah dan ingin tidur. Kae In Tanya kenapa In Hee balik ke tempat itu? In Hee bilang kalau dia kembali ke tempat dia tinggal dulu apakah itu masalah? Kae In kaget mendengar hal itu dan kesal sehingga dia langsung menarik rambutnya In Hee dan mereka pun Ho ga bisa focus dan merasa keganggu sehingga dia keluar kamar dan bilang kalau mereka berdua mengganggu dia. In Hee kaget melihat ada Jin Ho di kamarnya. Kae In bilang apakah In Hee iri dengannya dan berniat merebut Jin Ho? In Hee bilang kalau dia tidak akan merebut Jin Hoo karna Jin Hoo lah yang akan datang padanya. Kae In bilang kalau In Hee itu bukan tipe dia jadi dia ga mungkin bisa dapetin Jin Hoo. In Hee bilang dalam waktu 10 menit dia bisa dapetin Jin Ho dan mulai berjalan menuju kamarnya Jin Ho. Tapi tiba-tiba Kae In bilang kalau Jin Ho itu gay jadi ga mungkin Kae In dapetin Jin Ho. Jin Ho yang mendengar hal itu kaget karna di sangka gay.

sinopsis personal taste episode 2