pertanyaan tentang tujuan pendidikan islam

PertanyaanTentang Tujuan Bimbingan Konseling Islam. Tujuan bimbingan dan konseling adalah dalam rangka : Jiwa menjadi tenang, jinak dan damai, bersikap lapang dada dan mendapatkan pencerahan taufik dan hidayah tuhannya. Jawab 1) A. Rifqi Amin, Pengembangan Pendidikan Agama Islam: Reinterpretasi Berbasis Interdisipliner (Yogyakarta: LKiS, 2015) Iktisar bab 3 dan bab 4: a) Bab 3: memuat tentang "pengembangan PAI berbasis kecerdasan beragam (multiple intelligences)" yang ulasannya disarikan dari teori Howard Gardner. PertanyaanTentang Tujuan Dan Fungsi Bimbingan Konseling Islam. Tujuan bimbingan konseling islami setiap kegiatan konseling pasti memiliki tujuan yang hendak di capai. Ditujukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana sosial (s.sos) sebagai salah satu syarat untuk memperoleh. Hakikatpendidikan yang bersifat humanis teosentris pada dasarnya menitik beratkan hubungan manusia dengan Tuhannya atau Allah SWT dan menjabarkan iman dan taqwa itu sendiri. Dengan kata lain, hakikat pendidikan islam adalah penghubung Allah SWT dengan makhluknya terutama manusia melalui keimanan. 2. Pendidikan bernilai ibadah. Site De Rencontre Par Affinité Religieuse. 1. Apa yang menjadi obyek kajian ilmu pendidikan ? Yang menjadi objek kajian ilmu pendidikan adalah pertumbuhan dan perkembangan anak didik dalam dunia pendidikan mulai dari anak usia dini hingga dewasa. Meliputi tahap - tahap sesuai perkembangan anak didik , kemampuan yang dimiliki anak didik, serta pengembangan kecerdasan jamak hingga permasalahan - permasalahan yang di alami dalam melakukan kegiatan pendidikan. 2. Apa yang dimaksud transfer of knowledge, transfer of value dan transfer of culture? bagaimana hubungan ketiganya? >Transfer of knowledge pendidikan merupakan proses yang di berikan dalam bentuk ilmu pengetahuan. >Transfer of Value pendidikan yang dilakukan dengan cara pemberian nilai terhadap anak didik, dimana ilmu yang mereka miliki itu sangatlah berharga. >Transfer of Culture pendidikan yang dilakukan atau yang di sampaikan memiliki unsur budaya, sehingga anak didik bisa melestarikan kebudayaan. Dengan tujuan agar kebudayaan itu tidak akan hilang di telan masa. Jadi, hubungan antar ketiganya yaitu sama – sama suatu proses pendidikan yang memiliki tujuan agar dapat mengubah perilaku individu atau kelompok menjadi manusia yang seutuhnya. Utuh yang di maksud itu, manusia yang memiliki wawasan luas. 3. Apa maksud dari pernyataan Pendidikan Merupakan Kebutuhan yang Kodrati bagi Manusia? Maksudnya bahwa pendidikan itu merupakan suatu kebutuhan pokok yang dibutuhkan manusia untuk hidupnya kedepan. Tujuan pendidikan bagi manusia itu bisa digunakan sebagai tolak ukur batas kemampuan yang dimilikinya. Setiap manusia yang hidup pasti membutuhkan pendidikan baik pendidikan formal ataupun informal. Pendidikan formal adalah proses belajar dan mencetak keahlian melalui lembaga formal dan dilakukan secara profesional. Sedangkan pendidikan informal, proses belajar tidak melulu harus melalui lembaga, melainkan dilakukan secara mandiri pun juga tidak hanya sekedar memberikan pengetahuan atau data saja. Pendidikan juga berfungsi untuk membangun karakter, moralitas, kemampuan, dan keahlian tertentu pada seseorang. Tanpa pendidikan, manusia tidak akan belajar, mengevaluasi proses hidupnya, dan memiliki kemampuan untuk bisa memenuhi hidup dan membangun islam, pendidikan juga sangat diutamakan. Proses menuntut ilmu dan belajar sudah diperintahkan oleh Allah sejak manusia mulai dari kecil hingga ia menuju ke liang lahat. Sebagaimana hadist Rasulullah “Carilah ilmu mulai dari buaian hingga ke liang lahat”.Pendidikan islam bukan hanya berkaitan dengan bagaimana orang mengenal agama dan fungsi agama, melainkan juga bisa mempraktekkan nilai-nilai dan panduan tersebut dengan baik dalam kehidupan diri, keluarga, dan masyarakat. Pendidikan islam bermaksud untuk membangun pondasi agar segala bidang yang ada di masyarakat bisa terbangun secara baik, benar, dan tidak menyesatkan Mengenai Pendidikan dalam IslamDalam islam terdapat dalil-dalil yang berkenaan mengenai pendidikan islam. Hal ini sebagaimana Al-Quran dan Hadist banyak memperingatkan manusia untuk mencari ilmu dan mengembangkan pengetahuan agar bisa memberikan manfaat luas di masyarakat. Hal ini sebagaimana islam hadir sebagai rahmatan lil Al Quran Surat Al Mujadalah ayat 11 “Wahai orang-orang yang beriman!Apabila dikatakan kepadamu,”Berilah kelapangan didalam majelis, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat” Dalam ayat tersebut Allah memberikan informasi kepada umat islam bahwa di dalam majelis yaitu tempat untuk menuntut ilmu ditinggikan beberapa derajat bagi yang juga mempersilahkan orang yang lain untuk ikut dalam majelis. Hal ini berarti menunjukkan bahwa majelis ilmu adalah suatu hal yang penting diikuti sehingga Allah menyuruh untuk memberikan tempat duduk kepada yang lain walau harus ayat yang lain berkenaan dengan proses belajar adalah dalam Al-Quran Surat Al-Alaq. Hal ini menunjukkan bahwa Allah menyuruh kepada manusia untuk Iqro atau membaca. Dalam hal ini membaca tidak dibatasi pada membaca teks, namun juga membaca realitas, keadaan sekitar, dan apa yang nampak untuk bisa menyadari kekuasaan Allah dan mau untuk tunduk pada itu, pendidikan, bukan hanya sekedar bagaimana orang belajar di bangku formal. Pendidikan juga berbicara membaca keadaan dan Hadist “Dari Anas bin Malik ia berkata, Rasulullah saw, bersabda Mencari ilmu itu wajib bagi setiap muslim, memberikan ilmu kepada orang yang bukan ahlinya seperti orang yang mengalungi babi dengan permata, mutiara, atau emas” MajahDalam hadist di atas ditunjukkan bahwa untuk mencari ilmu adalah kewajiban dari setiap muslim. Mencari ilmu sama halnya sebagaimana muslim menjalani proses pendidikan. Pendidikan juga adalah kewajiban yang harus ditempuh oleh seorang ayat Al-Quran dan Hadist di atas, maka pendidikan dalam islam adalah suatu kewajiban terlebih hal yang berkaitan dengan islam-agama. Tidak ada satu alasan pun seorang muslim untuk melanggar kewajibannya dalam menuntut ilmu, melaksanakan Pendidikan Islam dengan yang LainPendidikan islam dengan pendidikan lainnya tentu memiliki perbedaan yang, walaupun secara umum tentunya pendidikan adalah proses untuk melakukan pembelajaran agar ada perubahan yang lebih baik dalam diri seseorang. Hal tersebut berakitan dengan skill, pola pikir, akhlak, atau masalah hidup lainnya. Berikut adalah hal-hal yang mendasar yang membedakan pendidikan islam dengan yang Ketauhidan ”Dan Ingatlah ketika Luqman Berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar”. QS Luqman 13Ayat diatas adalah bagaimana proses Luqman ketika proses memberikan pendidikan pada anaknhya. Luqman mengajarkan anaknya untuk tidak mempersekutukan Allah dan melakukan kezaliman. Hal ini menunjukkan bahwa ajaran Luqman, yang merupakan teladan pendidikan dalam sejarah islam, mengedepankan Tauhid sebagai landasannya.“Dan sungguh, telah Kami Berikan hikmah kepada Luqman, yaitu, “Bersyukurlah kepada Allah! Dan barangsiapa bersyukur kepada Allah, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa tidak bersyukur kufur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya, Maha Terpuji. Dan ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, “Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar. Dan Kami Perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tua-nya. lbunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau menaati keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian hanya kepada-Ku tempat kembalimu, maka akan Aku Beritahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. QS 31 12-15Di ayat yang lain ini pula dijelaskan bahwa pendidikan pertama kali diawali dari orang tua dan keluarga. Seorang anak dididik dan dibesarkan pertama kali bukan dari lingkungan sekolah atau tempat bermainnya, melainkan dari orang tua. Untuk itu, pendidikan dari orang tua adalah hal yang cukup penting dan utama untuk untuk Mengabdi pada Allah ”Dan tidaklah Aku menciptakan Jin dan Manusia kecuali hanya untuk beribadah kepada-Ku” QS Adzariyat 54Allah menciptakan manusia semata-mata untuk mengabdi kepada Allah. Segala apa yang dilakukan di muka bumi berarti diorientasikan untuk bisa mengabdi sebaik-baiknya melaksanakan apa yang Allah juga penting dan sangat mempengaruhi cara kita untuk mengabdi kepada Allah. Tanpa pendidikan islam, manusia tidak akan banyak mengenal tentang islam, tentang Allah dan lain-lainnya termasuk mengenal aturan yang Allah proses belajar manusia akan mengenal Tuhan dan Ajaran dengan baik, sehingga bisa melaksanakannya dengan baik pula. Mustahil tanpa ilmu pengetahuan yang benar dan luas dapat benar-benar mengabdi, karena mengabdi pun butuh asumsi terlebih islam bertujuan untuk semakin mampu mengabdi kepada Allah. Sedangkan untuk pendidikan lainnya belum tentu bertujuan untuk hal tersebut, walaupun dalam hal teknis dan operasional bisa saja penerapannya ada yang sama dan berjalan Khalifah fil Ard, Membangun bukan Merusak Bumi “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi. . . . ” QS Al-Baqarah 30 Manusia semata-mata diciptakan Allah untuk menjadi khalifah fil ard, yaitu pemimpin di muka bumi, untuk melaksanakan pembangunan di bumi bukan malah justru merusaknya. Untuk itu, dengan pendidikan islam tujuan utamanya adalah membentuk manusia membangun bumi di berbagai sektor-sektor yang ada mulai dari Politik, Sosial, Budaya, Ekonomi, Pendidikan, Hukum, Keamanan, IPTEK, tersebut tidak bisa terbangun jika tidak ada misi islam untuk mensejahterakan masyarakat, menegakkan keadilan, memberikan solusi, dengan prinsip islam yang rahmatan lil alamin. Sedangkan pendidikan lainnnya yang bukan pendidikan islam belum tentu mengorientasikan sebagaimana pendidikan islam orang-orang yang menganggap bahwa pendidikan hanya untuk gelar, formalitas, dan juga sebagai kebanggaan diri. Islam tidak pernah mengajarkan hal tersebut. Aspek terpenting dari pendidikan adalah sejauh apa ilmu yang kita miilki mampu memberikan perubahan di dilaksanakannya Pendidikan IslamPendidikan islam memiliki tujuan yang ingin dicapai, khususnya untuk umat islam sebagai pemeluknya. Tujuan ini tidak lepas dari dasar diciptakan manusia hidup dan tinggal di muka bumi. Begitupun tujuan pendidikan islam tidak lepas dari orientasi Allah menciptakan manusia sebagai hamba yang harus taat dan patuh pada Agama dan Tuhan dengan Baik dan Benar Pendidikan islam bertujuan juga untuk bisa mengenalkan islam dengan baik dan benar. Tanpa pendidikan islam, kita bisa salah memahami dan tersesat dari jalan yang seahrusnya. Pendidikan islam yang kental membuat seseorang lebih bisa memahami secara mendalam dan lebih memahami berbagai masalah hati gelisah menurut islam salah satunya adalah karena dalam hidupnya tidak ada pegangan hidup. Jika manusia tidak mengenal agama dan Tuhan dengan benar maka kegelisahan akan muncul karena ia tidak memiliki tempat bergantung dan berserah diri dalam hidupnya. Untuk itu ada banyak manfaat beriman kepada Allah SWT, salah satunya adalah mendapatkan tuntunan hidup yang benar di jalan Pondasi atau Dasar dalam kehidupan Agama adalah dasar atau pondasi dalam kehidupan manusia. Rukun Islam dan Rukun Iman adalah pondasi dari pendidikan Islam dan Pendidikan Akhlak. Pendidikan islam bertujuan untuk membangun, memperkukuh, dan memperkuat pondasi tersebut dalam kehidupan manusia. Pembangunan dan perawatan pondasi tidak bisa sekali saja dilakukan, namun terus sekali manusia yang pintar, namun karena minim pendidikan agama akhirnya tidak mampu menghadapi berbagai tantangan nilai kerusakan sosial di masyarakat. Salah satu contohnya manusia tersebut sulit menerima kenyataan ujian kesulitan hidup. Dalam pendidikan islam tentunya hal ini diajarkan bagaimana menghadapi musibah dalam islam, agar tidak terjerumus jurang yang lebih dalam apalagi berputus asa. Ada bahaya putus asa dalam islam, untuk itu akhlak islam mengajarkan untuk bisa bersabar dan ikhlas menghadapi Menerapkan agamanya dalam kehidupan dan berbagai sektor kehidupan Tujuan pendidikan islam bukan sekedar untuk menambah ilmu semata, tetapi mengenal agama, hukum Allah diberbagai bidang, dan sunnatullah kehidupan lainnya yang tidak tertulis di Al-Quran seluruhnya Ayat-Ayat Semesta, Kauliyah.Persoalan agama tidak melulu hanya sekedar persoalan ritual dan spiritual. Bidang bidang kehidupan seperti ekonomi, budaya, sosial, dan lainnya juga sangat berkaitan erat dengan agama. Dengan mengenal agama dengan baik dan benar maka kita bisa memahaminya dan menerapkannya di berbagai sektor perintah Agama adalah menerapkan agama di segala sektor kehidupan, kita sadari bahwa Indonesia tidak seluruhnya memiliki keyakinan yang sama. Untuk itu perlu adanya toleransi terhadap ummat lain. Bukan berarti membenarkan ajarannya, namun sekedar bertoleransi. Ada sangat banyak manfaat toleransi antar umat beragama yang bisa didapatkan. Salah satunya adalah Islam dikenal sebagai agama yang rahmatan lil alamin serta membawakan Diri atas Lingkungan Agama Dengan adanya pendidikan islam tujuannya juga bisa mendapatkan pengondisian budaya dan lingkungan yang berbasis islam. Di tengah masyarakat yang liberal dan hedonis maka tentunya kita membutuhkan pengondisan agama untuk bisa memperkukuh keimanan dan akhlak di zaman saat ini sudah muncul ciri-ciri akhir zaman yang membuat kita harus semakin mengokohkan pondasi agama dan memberikan pendidikannya pada anak-anak, keluarga, dan lingkungan yang bisa kita ikut tengah zaman yang mulai banyak ditanami nilai liberal dan hedonis, tentunya sering kali membawa stress dan kegelisahan bagi diri kita yang masih memegang teguh keimanan. Islam mendidik dan mengajarkan bagaimana cara agar hati tenang dalam islam juga cara menghilangkan stress dalam islam. Hal ini merupakan bagian dari pendidikan akhlak islam yang ditanamkan agar manusia bisa fokus menjalani kehidupan dan berbuat baik dengannya. Untuk itu islam pun juga mengajarkan untuk tidak bersikap sombong dan tidak ikhlas. Sifat sombong dalam islam dan ciri-ciri orang yang tidak ikhlas dalam beribadah kepada Allah SWT tentu harus dipahami dan dihindari agar tidak merusak akhlak kita Pendidikan Islam Menurut Tokoh LainnyaTokoh-tokoh lainnya memiliki pendapat mengenai tujuan pendidikan islam. Imam Al Ghazali dan Muhammad Quthub adalah tokoh yang mewakili sosok ulama islam yang berbicara mengenai masalah Imam Al Ghazaly Tujuan Pendidikan menurut imam Al Ghazaly adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah, bukan pangkat dan bermegah-megah, dan hendaklah seorang pelajar itu belajar bukan untuk menipu orang-orang bodoh atau bermegah-megahan. Pendidikan Islam menurut Al Ghazaly adalah untuk membentuk Pendidikan Muhammad Quthub Tujuan pendidikan menurut Muhammad Quthub adalah lebih penting dari pada pendidikannya. Menurut Quthb tujuan umum pendidikan adalah manusia yang Taqwa, itulah manusia yang baik Islam tidak bergantung kepada sarana yang ada, melainkan bergantung dari tujuannya. Sarana bisa berganti kapanpun namun tujuan pendidikan islam untuk mencapai ketaqwaan tetaplah sama Pertanyaan Banyak orang yang hafal Al-Quran karena ada yang mengajarkan Al-Quran atau belajar fiqih karena ada syekh dan ulama. Akan tetapi, problem yang kami saksikan dan rasakan saat bergaul dan berinteraksi dengan masyarakat adalah adanya didikan yang buruk atau dengan kata lain pendidikan yang sangat memprihatinkan. Kemana para pendidik dan bagaimana mengatasi hal ini? Bagaimana memasukkan nilai-nilai tarbiyah dalam kurikulum pendidikan yang syar’i? Apa gunanya ilmu tanpa tarbiyah? Yang kami tidak pahami adalah bagaimana manhaj tarbiyah hilang di kalangan para pengajar? Mengapa mereka memilih profesi mengajar? Adapun peran keluarga tak jauh berbeda, kegagalan tarbiyah. Bagaimana kita menjadi pendidik? Apakah tarbiyah merupakan ilmu tersendiri ataukah dia pemahaman dari para pakar? Bagaimana dahulu para salaf, ulama dan penguasa serta para tokoh mendidik anak-anaknya? Teks Jawaban diragukan lagi bagi siapa yang mengamati bahwa telah terjadi pemisahan antara ilmu dan amal, pengetahuan dan tarbiyah, baik dalam pandangan awam atau para ahli. Banyak yang mengira bahwa tarbiyah hanyalah masalah teori terkait dengan kemampuan para orang tua yang dapat mengisi otak anak-anaknya dengan berbagai ilmu pengetahuan disertai kesungguhan untuk menghasilkan sebesar-besarnya karangan-karangan dan tesis-tesis yang berbicara tentang sarana tarbiyah dan segala sesuatu yang terkait dengannya. Bahkan hingga sampai pada tingkat mencocokkan nash-nash syar’i dengan teori-teori akal tanpa meninjau sisi praktis dalam tarbiyah. Misalnya, sikap mencocokkan ayat berikut إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ سورة غافر 28 “Sesungguhnya yang takut kepada Allah dari hambaNya hanyalah para ulama.” QS. Ghafir 28 Dipahami bahwa siapa saja yang berilmu, baik ilmu-ilmu syari atau ilmu-ilmu sains dianggap sebagai orang yang takut kepada Allah. Padahal ayat tersebut tidak menunjukkan semua orang yang berilmu adalah takut kepada Allah, akan tetapi orang yang takut kepada Allah adalah orang yang berilmu. Syaikhul Islam Ibnu Taimiah berkata dalam kita Majmu Fatawa, 7/539. Allah Taala berfirman, إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ “Sesungguhnya yang takut kepada Allah dari hambaNya hanyalah para ulama.” QS. Ghafir 28 Ayat ini menunjukkan bahwa siapa saja yang takut kepada Allah maka dia adalah orang berilmu, tidak menunjukkan bahwa setiap orang yang berilmu maka dia takut kepada Allah.” Beliau juga berkata di tempat lain, “Maknanya adalah bahwa tidak ada yang takut kepada Allah melainkan dia ulama. Allah mengabarkan bahwa siapa yang takut kepada Allah, maka dia ulama. Sebagaimana dia berfirman dalam ayat lain, أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ سورة الزمر 9 “Apakah kamu orang musyrik yang lebih beruntung ataukah orang yang beribadah pada waktu malam dengan sujud dan berdiri, karena takut kepada azab akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah, "Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" QS. Az-Zumar 9 Ini merupakan ayat lainnya yang oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiah termasuk di antara ayat-ayat yang dipahami tidak benar termasuk dalam perkara memuji para ulama walaupun terhindar dari amal dan tarbiyah. Hal tersebut karena mereka hanya menyebut akhir ayatnya dan mengabaikan awalnya. Karena firman Allah Taala, قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ "Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Adalah penafsiran dari ayat sebelumnya, أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ “Apakah kamu orang musyrik yang lebih beruntung ataukah orang yang beribadah pada waktu malam dengan sujud dan berdiri, karena takut kepada azab akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya?” Orang yang mengetahui di sini adalah mereka yang sering beribadah karena Allah dalam keadaan tunduk di waktu malam karena takut dari nerakanya dan berharap surga dan rahmatNya. Adapun yang tidak berilmu adalah mereka yang lalai dari semua itu. Perhatikanlah! Karena itu, Imam Ibnu Qayim menyatakan dalam kitab Miftah Dar As-Saadah’ 1/89 satu kaidah umum dalam masalah ini, “Dahulu kalangan salaf tidak menyebutkan nama fiqih’ kecuali terhadap ilmu yang diiringin amal.’ Inilah hakikat fiqih menurut para ulama salaf kita, ilmu yang diiringin amal. Ketika hakikat ini hilang dalam pemahaman banyak dai dan tenaga pendidik, maka tarbiyah atau pendidikan yang ada hanya fokus pada masalah ilmu pengetahuan semata dengan mengabaikan prilaku, manajemen hati, pengendalian jiwa dan perbaikan akhlak. Mereka mengira bahwa inilah ilmu dan fikih yang dimaksud. Padahal tidak demikian!. Pendidikan untuk menanamkan akhlak dan agama tidak dapat terlaksana kecuali oleh orang-orang robbany, apakah mereka ulama, dai, aktifis atau guru. Orang robbany adalah orang yang dekat kepada Allah Taala, dengan ilmu, amal maupun dengan mengajarkannya. Allah Taala berfirman, وَلَكِنْ كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُونَ سورة آل عمران 79 "Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah". Akan tetapi dia berkata "Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.” QS. Ali Imran 79 Imam Asy-Syaukani rahimahullah berkata dalam kitab Fathul Qadir, 1/407, “Robbany adalah nisbat sandaran terhadap kata rabb tuhan dengan menambah alif dan nun untuk menunjukkan sangat. Seperti dikatakan kepada orang yang berjenggot lebat lihyani’ atau kepada orang yang lehernya besar ruqbany’. Ada yang berpendapat bahwa robbany adalah orang yang mendidik manusia dengan ilmu-ilmu yang ringan sebelum yang berat, seakan dia ingin mencontoh Tuhan Taala dalam membantu segala perkara. Kesimpulannya, tarbiyah bukan sebatas teori-teori kosong yang jauh dari pengamalan, bukan pula kaidah-kaidah yang jauh dari nilai-nilai keimanan. Akan tetapi tarbiyah ruang lingkupnya adalah; Terwujudnya kekuatan jiwa yang menggabungkan antara ilmu dan kesantunan, antara hikmah dan pemahaman, antara ilmu dan amal serta mengajarkan apa yang telah dipahami. Karena itu, Imam Asy-Syaukani berkata tentang firman Allah Taala, وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُونَ “Disebabkan kamu tetap mempelajarinya.” Yang membaca dengan tasydid, maka dia harus memahami robbani dengan suatu perangkat tambahan selain ilmu dan mengajarkannya, yaitu bersama dengan itu dia ikhlas dan bijaksana, atau santun, sehingga tampak sebabnya. Yang membaca takhfif tanpa sebab, boleh memahaminya robbany sebagai orang yang berilmu dan mengajarkan manusia. Maka maknanya adalah jadilah orang yang mengajarkan ilmu karena kalian adalah ulama dan sebab kalian telah mempelajari ilmu. Ayat ini merupakan dorongan paling kuat bagi orang yang berilmu untuk beramal dan di antara amalan terbesar atas ilmu adalah mengajarkannya serta ikhlas karena Allah Taala.” Fathul Qadir, Fathul Qadir, 1/407 Dengan demikian menjadi jelas bahwa inti dari tarbiyah rabbany dan pondosinya adalah tarbiyah dengan praktek, bukan sekedar teori simbolis yang sunyi dari hakikat amal. Karena itu, Al-Hafiz Ibnu Rajab berkata dalam risalahnya yang bermutu, “Fadlu ilmi Assalaf Ala Ilmi Al-Kholaf.” Hal. 5, “Banyak orang dari kalangan belakangan terkena fitnah dengan mengira bahwa banyaknya pendapat dan perdebatan mereka dalam masalah agama menunjukkan bahwa mereka lebih mengetahui dibanding yang tidak seperti mereka. Ini merupakan kebodohan yang nyata. Perhatikanlah para sahabat-sahabat besar dan ulama mereka, seperti Abu Bakar, Umar, Ali, Muaz, Ibnu Masud, Zaid bin Tsabit, bagaimanakah mereka? Ucapan mereka lebih sedikit dari ucapan Ibnu Abbas padahal mereka lebih berilmu darinya, demikian pula ucapan para tabiin, ucapan mereka lebih banyak dari ucapan para sahabat padahal para sahabat lebih utama dari mereka, lalu tabiit tabiin lebih banyak perkataannya dari tabiin padahal para tabiin lebih utama dari tabiit tabiin. Ilmu itu bukan pada banyaknya riwayat, tidak juga pada pada banyaknya pendapat, akan tetapi dia adalah cahaya yang terpancar dalam hati yang dengan itu seorang hamba memahami kebenaran dan membedakan antara yang hak dan yang batlil lalu dapat mengungkapkan hal tersebut dengan redaksi yang ringkas namun sampai kepada tujuan.” Inilah bencana besar yang dialami rumah-rumah kaum muslimin dan lembaga-lembaga pendidikan mereka, yaitu hilangnya teladan saleh yang rabbany yang mendidik dengan perbuatan sebelum ucapan dan menghimpun dalam pengajarannya antara pandangan yang benar dengan amal saleh diiringi sikap bijak dan pemahaman yang lurus terhadap agama Allah Taala serta keinginannya terhadap hamba. Ibnu Jauzi rahimahullah berkata, “Ketahuilah bahwa pendidikan seperti benih sedangkan pendidik seperti tanah. Jika buminya buruk, maka sia-sialah benihnya. Jika tanahnya subur, maka benih akan tumbuh berkembang.” Al-Adab Asy-Syar’iyah Ibnu Muflih, 3/580 Beginilah kesalehan orang-orang yang saleh di antara anak-anak para ulama dan orang-orang saleh dan inilah yang jalan kebaikan yang dilakukan oleh para fuqoha dan pendidik. Setelah itu, sebab terputus, hasilnya diserahkan kepada pemilik segala urusan, pencipta perbuatan hamba, penunjuk ke jalan yang lurus. Yang paling mungkin dilakukan oleh para pendidik dan orang tua adalah pendidikan dan pembinaan, adalah kesalehan dan berubahnya hati, tidak ada seorang pun yang mampu mewujudkannya kecuali Allah. Karena itu dikatakan, Adab dari orang tua, kesalehan dari Allah.” Al-Adab Asy-Syar’iyah, Ibnu Muflih, 3/552 Terakhir, cara untuk mewujudkan hal itu ada dalam point singkat berikut; 1- Para dai dan pendidik menyadari sendiri tentang hakikat tarbiyah dan perkara terkait dengannya. 2- Para pendidik memberikan pemahaman kepada seluruh kaum muslimin tentang sarana-sarana tarbiyah Islam. 3- Kerjasama antara para pendidik dengan lembaga-lembaga, tokoh dan pakar di tengah masyarakat untuk mendirikan lembaga pendidikan yang diawasi dan diselenggarakan oleh para pendidik robbany. Wallahua’lam .

pertanyaan tentang tujuan pendidikan islam